DARAH KI JURU TAMAN (11) – Kekuatan Pangeran Silarong Makin Mengkhawatirkan

Pangeran Silarong sanggup menyembuhkan penyakit Angga Brangsa, namun sebelum diobati ia minta dipijit dahulu meski hanya sebentar.

LAGI asyik-asyiknya mereka berdua ngobrol macam-macam sambil memijit dan dipijit, datanglah Tumenggung Danupaya. “Adimas Pangeran Silarong, kapan kamu mendapat tugas jaga malam di Pendapa Kasultanan?” tanya Tumenggung Danupaya sepertinya sekadar bertanya saja.
“Besuk malam, Kangmas. Kenapa? Ada yang sangat penting?”
“Tidak. Hanya saja, tadi Kakang Wiraguna bertemu aku di Kasultanan, dia mengatakan besuk malam tidak bisa ikut berjaga di Pendapa karena diutus oleh Kanjeng Sultan ke Madiun. Makanya aku mampir kemari menanyakan kapan kau jaga malam agar kita bisa bersama-sama,” jawab Tumenggung Danupaya.
“Ooo, begitu? Ya, besuk malam bersamaku, Kangmas.”

Tumenggung Danupaya mengangguk-angguk. Dia lalu minta pamit untuk meneruskan perjalanan pulangnya dimana rumahnya tidak seberapa jauh lagi dari situ.
Dalam perjalanan pulangnya Tumenggung Danupaya merasakan memang ada sesuatu yang berbeda dengan Pangeran Silarong. Yang jelas semenjak membuka praktek perdukunan dia nampak semakin kaya. Namun hal yang paling membahayakan adalah kedatangan orang-orang luar yang tak dikenal itu? Lebih membahayakan lagi jika mereka diajaknya menghimpun diri dimana semakin lama kelompok itu menjadi semakin banyak dan besar. Sehingga memiliki kekuatan yang besar pula dan terus berkembang. Padahal, yang jelas sudah ketahuan Pangeran Silarong itu memiliki racun mematikan ‘upas anglung’. Upas itu bisa dicampur dengan minyak kelapa lalu dioleskan pada ujung pedang, keris, cundrik, atau mata tombak. Kena goresan senjata tersebut meski hanya seujung kuku pasti berakibat fatal, mati.
“Uuuukh…, senjata-senjata semacam itu akan sangat berbahaya dan akan banyak memakan korban jika dibawa ke medan pertempuran, gawat,” gumam Tumenggung Danupaya penuh kekhawatiran di dalam hati.

***

Entah sudah berapa puluh tahun Pangeran Silarong melayani praktik perdukunan. Semula Kanjeng Sultan Agung sudah memperingatkannya namun tidak diindahkan. Apalagi sekarang Kanjeng Sultan sedang menderita sakit maka berkali-kali utusan disuruh datang ke rumah Pangeran Silarong tidak membawa hasil yang menggembirakan. Hal ini hanya menambah beban pikiran Kanjeng Sultan saja sekaligus memperparah penyakit kasepuhan yang dideritanya.

Akhirnya pada tahun 1645 Kanjeng Sultan Agung Hanyakrakusuma wafat dan digantikan oleh putranya Sunan Amangkurat I atau sering disebut Sunan Gethek. Pemerintahan Kerajaan Mataram mulai berubah dan sedikit demi sedikit mengalami masa-masa kemundurannya. Dia berbeda sekali dengan ayahnya yang bijaksana, sakti mandraguna, dan banyak pengetahuannya.
Suhubungan dengan watak Amangkurat I yang kejam suka menerapkan pidana pati dan tak segan-segan membunuh keluarganya sendiri maka semasa pemerintahan Sunan Gethek ini penuh dengan kemelut baik di dalam maupun di luar kerajaan. (Akhiyadi)

Read previous post:
Rumah Sakit Rujukan Corona Ditambah, DIY Buka Hotline 08112764800

DANUREJAN (HARIAN MERAPI) - Dinas Kesehatan DIY menambah rumah sakit rujukan untuk pasien yang diduga terjangkit virus corona atau Covid-19.

Close