DARAH KI JURU TAMAN (3) – Anjing Mati Setelah Makan Darah Dalam Takir

Kanjeng Sultan menyuruh Pangeran Silarong untuk membersihkan darah bekas Ki Juru Taman, yang sempat menyamar jadi Dyah Banowati.

SEPENINGGAL Sultan Agung dari tempat itu, Pangeran Silarong segera mengambil takir, yaitu wadah yang terbuat dari daun pisang berjumlah dua buah. Satu buah untuk wadah darah merah yang diciduknya dengan sendok dan satu lagi untuk tempat tanah basah di bawah genangan darah tersebut yang dikeruk oleh Pangeran Silarong.

Sementara itu, malam sudah semakin mendekati pagi. Burung hantu nampak memintas di bawah sinar rembulan lalu bergegas hinggap di dahan pohon Sawo. Bebintang di langit kerlap-kerlip tak henti-hentinya seolah-olah menghitung perjalanan waktu detik demi detik sambil menanyakan, kapan mentari menjelang?

“Ki Sujanapura, aku pulang dulu ya!” kata Pangeran Silarong berpamitan kepada sesama teman jaga malam sambil membawa dua buah takir.
“Silakan! Tetapi apa itu yang kamu bawa?” tanya Ki Sujanapura.
“Ini kotorannya Ki Juru Taman dan Kangmas Sultan menyuruhku membuangnya.”

Ki Sujanapura tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Pangeran Silarong segera bergegas pulang ke rumahnya.

Meski masih pagi-pagi sekali ternyata istri Pangeran Silarong ditemani seorang dayang telah menyediakan sarapan pagi lengkap dengan sayur mayur dan lauk pauknya.
“Sarapan dulu, Kangmas. Nanti sesudah itu boleh berangkat tidur. Bukankah Kangmas merasa ngantuk karena semalaman berjaga di Kasultanan?”
“Ya. Aku memang ngantuk sekali.”

Istrinya kemudian membuatkan teh hangat dan menyediakan segelas air putih. Pangeran Silarong lalu sarapan pagi dengan sayur gudheg jantung pisang kluthuk, sambal trasi, dan lauknya pepes gurameh. Baru setengah piring nasi yang dihabiskan Pangeran Silarong berhenti sambil memandangi takir berisi darah yang diletakkan di bawah meja makan.
“Kenapa, Kangmas?” bertanya istrinya heran.
“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin mencoba memberi makan anjingku. Coba kamu bawa kemari si Plonteng!”

Istrinya segera mencari anjing piaraannya yang berbulu belang putih dan hitam itu lalu diajak mendekati suaminya.
Pangeran Silarong mengepal-ngepal nasi, lalu ditutulkan ke darah merah dalam takir kemudian diberikan kepada anjingnya. Selang beberapa detik setelah memakan nasi berlepotan darah tersebut si Plonteng nampak terhuyung-huyung, jatuh ke lantai, dan mati.

“Ah, bagaimana Kangmas ini? Plonteng kamu bunuh?” istri Pangeran Silarong menjadi sedih sekali.
“Tenanglah, Diajeng. Soal anjing piaraan besuk kucarikan lagi. Namun perkenankanlah aku menguliti anjing ini.”
Ternyata setelah diiris-iris dengan pisau daging anjing tadi begitu mbedhelnya, tidak alot seperti kebanyakan daging mentah. (Akhiyadi)

Read previous post:
Warga Tolak Pembangunan Tempat Sampah di Canden

JETIS (MERAPI) - Sejumlah warga dua pedukuhan, yakni Pedukukuhan Pulokadang dan Pedukuhan Klaras, Desa Canden, Jetis, Bantul menolak rencana pembangunan

Close