MERIAM ANAK MAKASAR (15) – Sultan Hasanuddin Menerima Perjanjian Bongaya

Keadaan pasukan Gabungan yang dipimpin Speelman itu sesungguhnya juga parah. Selain tercabik-cabik oleh peperangan kini banyak personRlnya yang terserang penyakit.

ADA 108 orang Belanda yang meninggal karena sakit. Bahkan wakil Speelman sendiri juga menderita sakit berat. Akhirnya Speelman dengan dikawal 600 tentara Belanda membawa pulang mereka yang menderita sakit maupun meninggal dunia ke Batavia.
Tanggal 18 November 1667 Belanda mengatakan ingin berdamai dengan Sultan Hasanuddin dengan mengadakan perjanjian di Bongaya sebuah kota yang terletak di sebelah selatan Makasar. Mengenai perjanjian yang katanya untuk mengakhiri perang ini terjadi perpecahan diantara para petinggi Makasar.

“Sultan, jangan layani permintaan Speelman untuk berdamai itu, pasti dia akan ingkar”, kata Kraeng Langkese menyarankan. Pendapat yang sama juga disampaikan oleh Raja Tallo dan juga Kraeng Popo.
“Lebih baik kita teruskan peperangan ini. Kita masih sanggup meski bertahun-tahun lagi”.
Sultan Hasanuddin mengangguk-angguk, “Ya. Di antara kita banyak berbeda pendapat. Para pemimpin tidak sedikit yang menyarankan agar ditempuh cara perdamaian, rakyat sudah lelah berperang dan beaya sudah banyak yang kita habiskan untuk perang”, jawab Sultan Hasanuddin.

Akhirnya diterimalah tawaran perjanjian dari Belanda tersebut. Perjanjian Bongaya itu terdiri dari 30 pasal dan yang terpenting adalah:

  1. Kerajaan Goa harus melepaskan haknya atas wilayah kerajaan Bone dan lain-lain.
  2. Kerajaan Goa mengakui hak monopoli perdagangan Belanda di Maluku.
  3. Pelayaran perdagangan orang-orang Makasar dibatasi.
  4. Semua benteng kerajaan Goa harus dihancurkan kecuali benteng Sombaopu dan benteng harus diserahkan kepada Kompeni.
  5. Semua orang asing kecuali Belanda dilarang berdagang di Makasar.
  6. Makasar harus membayar beaya kerugian perang.

Beberapa bulan sudah perjanjian Bongaya berlaku, Sultan Hasanuddin dan para pemimpin Makasar yang semula menyarankan agar menerima perjanjian tersebut kini mulai berpikir dan merasakan. Makasar kini kehilangan kedaulatan dan kemerdekaannya, perjanjian itu hanya menguntungkan pihak Belanda dan membatasi gerak orang-orang Makasar justru ketika mereka hidup di tanah warisan nenek moyangnya sendiri. Angkatan Perang kita yang gagah berani menjadi tidak ada artinya sama sekali, hilang semua kebesar Makasar masa lampau. (Akhiyadi)

Read previous post:
Longsor di Cibuk Lor II Membahayakan

SEYEGAN (MERAPI) - Longsor di dusun Cibuk Lor II, desa Margoluwih, Kecamatan Seyegan mengancam area pemakaman, pondok pesantren, masjid dan

Close