MERIAM ANAK MAKASAR (12) – Menembakkan Meriam Anak Makasar untuk Menggertak Musuh

Infomasinya, dari arah utara pasukan Soppeng dan Ternate akan menyerang kota Sombaopu. Dari arah selatan, pasukan Bone di bawah Arupalaka akan melewati Turatea terus menyerang Sombaopu.

KANJENG Sultan yang baru saja tertidur itu nampak tidak bersungut-sungut ketika dibangunkan oleh adiknya.
“Kau membangunkanku apa ada yang penting, Bonto?”, tanya Sultan Hasanuddin kepada adiknya.
“Sangat penting informasi yang barusan kuterima ini, Abang”.
“Hmmmm, informasi apa itu?”.
“Besuk Sombaopu akan diserang pasukan gabungan dari berbagai arah. Namun yang penting mendapat perhatian adalah serangan dari arah barat dimana Speelman berada di pasukan induk. Pasukan induk tadi dalam posisi siap serang dan berada di kapal perang Belanda yang saat ini bersandar di pantai barat”.

Sultan Hasanuddin mengangguk-angguk, “Siapkan Meriam Anak Makasar, arahkan moncongnya ke pasukan induk Belanda yang berada di kapal perang. Sedangkan meriam-meriam yang lain siapkan untuk meladeni serangan musuh dari berbagai penjuru!”.
“Siap, Abang. Aku akan mengajak Kraeng Popo dan Kraeng Langkese” jawab Kraeng Bonto Majanang menyanggupi perintah kakaknya.
“Bonto, besuk pagi-pagi benar begitu terdengar sirine meraung segera tembakkan meriam anak Makasar untuk menggertak pasukan gabungan itu, perintah Sultan Hasanuddin..
“Ya, Abang. Siap!”, Kraeng Bonto Majanang bergegas meninggalkan kakaknya pergi menemui Kraeng Popo dan Kraeng Langkese. Mereka berdua selain Prajurit handal juga pintar menembakkan meriam agar pelurunya jatuh tepat sasaran.
Di langit timur warna merah menyemburat, burung-burung berkicauan di dahan pepohonan seakan memanggil matahari agar segera meninggi. Angin laut yang berhembus menyapu daratan kota Makasar terasa dingin membuat para pemalas makin rapat menarik selimutnya agar tidurnya kian pulas. Di keheningan pagi yang mestinya tentram itu mendadak terdengar suara sirine dari kapal perang Belanda. Semua warga kota Makasar mengerti, ini menandakan Belanda akan mengadakan serangan hari itu.

“Tembaaak!” teriak Kraeng Bonto Majanang memberi aba-aba kepada Kraeng Langkese yang sudah siap dengan meriam gedhe yang mereka beri nama Meriam Anak Makasar.
“Glegeerrrrr…” terdengar suaranya menggelegar mantab dan keras sekali. Peluru sebesar paha orang dewasa itu meluncur deras, jatuh di kapal perang Belanda.
Speelman dan semua prajuritnya yang berada di kapal itu dan sedang sarapan terjingkat kaget. Bahkan beberapa orang terjatuh dari kursi duduknya di meja makan sehingga piring-piring dan seisinya jatuh berantakan dimana-mana. Umpatan, cacian, makian, dan segala sumpah serapah keluar dari mulut-mulut orang Belanda itu. (Akhiyadi)

Read previous post:
MERAPI-HUMAS SLEMAN Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun saat pengukuhan SMPN 2 Pakem sebagai Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).
HARAPAN WABUP SLEMAN: Warga Mampu Tanggulangi Ancaman Merapi

SLEMAN (MERAPI) - Wakil Bupati (Wabup) Sleman Sri Muslimatun, kembali mengingatkan masyarakat agar selalu waspada terkait aktivitas Gunung Merapi yang

Close