MERIAM ANAK MAKASAR (11) – Mendapat Informasi Belanda akan Menyerang Sombaopu

Kraeng Bonto Majanang bereriak-teriak menyemangati lelaki-lelaki Galesong yang terkenal pemberani itu untuk bergabung dengan Prajurit Makasar menyerang Belanda dan pasukan gabungan.

KEMBALI pertempuran sengitpun terjadi. Lelaki-lelaki Galesong itu rata-rata membawa lembing-lembing bertangkai kecil memanjang. Ternyata mereka itu ahli lempar lembing dan ahli pula memainkan pedang. Hal ini di luar perhitungan para pemimpin pasukan gabungan maka tak ada satupun diantara sekian ribu orang itu yang membawa perisai untuk melindungi diri. Bagaikan anak panah lembing-lembing itu meluncur deras mencari sasaran, dada, bahu, tangan, perut, bahkan juga leher tertusuk mata lembing. Darah segar banyak berceceran di mana-mana, baunya terasa amis, mengundang puluhan ribu lalat yang terbang berdengung-dengung.
Ada sekitar 40-an orang yang menjadi korban serangan lembing dan bedil-bedil serta senjata tradisional lain milik prajurit Makasar itu 5 orang diantaranya adalah tentara Belanda. Sedangkan di pihak prajurit Makasar berikut pengikutnya kurang lebih 70-an orang meninggal.

Matahari mulai mendekati ufuk barat, senja semakin merunduk ke dalam, kelelawar-kelelawar mulai terbang lurus ke utara, sedangkan burung-burung mulai terbang pulang ke sarang.
Belanda mengerek bendera putih di tiangnya pertanda pertempuran dihentikan, gencatan senjata.
Dari Masjid di sebelah selatan terdengar alunan suara adzan Maghrib gemanya seakan menyelusup diantara kabut-kabut putih yang bertebaran di mana-mana.
“Urusi kawan-kawanmu yang menjadi korban pertempuran ini, kuburkan selayaknya sebagaimana dicontohkan oleh Nabi !”, kata Kraeng Bonto Majanang kepada seluruh pengikutnya.
Mereka kemudian mengerjakan kuwajibannya menguburkan mayat-mayat sahabatnya yang menjadi korban. Peperangan memang kejam tetapi manusia tidak segan melakoninya. Sebab kemerdekaan diri dan kemerdekaan bangsanya harus tetap ditegakkan dengan pengorbanan yang terkadang begitu mahalnya.

Tengah malam prajurit mata-mata Makasar mendapat informasi dan langsung dilaporkan kepada Kraeng Bonto Majanang agar diteruskan kepada Sultan Hasanuddin.
“Besuk pagi pasukan gabungan yang dipimpin Speelman akan menyerang Sombaopu”, kata Prajurit mata-mata itu.
“Oooo, begitu? Terus?” Kraeng Bonto Majanang menjawab sekalian bertanya.
“Riciannya begini. Dari arah utara pasukan Soppeng dan Ternate akan menyerang kota Sombaopu. Dari arah selatan, pasukan Bone di bawah Arupalaka akan melewati Turatea terus menyerang Sombaopu. Kemudian pasukan Ternate dan Buton menyusuri pantai dan menyerang daerah tepian samodra itu. Sedangkan Speelman bersama armada induknya menyerang dari kapal-kapal perang mereka dari arah barat”, kata prajurit mata-mata itu menjelaskan informasi yang diperolehnya.
“Baiklah, terima kasih atas informasimu dan malam ini juga akan aku sampaikan kepada abangku, Sultan Hasanuddin”. (Akhiyadi)

Read previous post:
Lupa Matikan Kipas Angin, Rumah Terbakar

MLATI (MERAPI)- Diduga dipicu konsleting kipas angin, sebuah rumah milik Eko Saputro (40) warga Gabahan, Sumberadi, Mlati, Sleman terbakar, Senin

Close