MERIAM ANAK MAKASAR (10) – Kalah Jumlah dan Kekuatan, Diterapkan Perang Gerilya

Speelman kembali lagi ke Makasar setelah lawatannya ke daerah timur berhasil. Ternate, Tidore, Ambon ditambah dengan Buton, Soppeng, dan Bone kini telah menyatakan sanggup bergabung dengan Belanda untuk menyerang Makasar.

TENTU saja hal ini sangat menyulitkan Sultan Hasanuddin karena harus menghadapi pasukan gabungan dengan kekuatan yang berlipat.
Pada tanggal 26 Juli 1667 armada gabungan ini bergerak menuju ke bagian barat daya Pulau Sulawesi. Pasukan dari Bone yang dipimpin Poleman berlayar agak terpisah dari armada induk. Tanpa diduga mereka tiba-tiba diserang badai lautan sehingga beberapa kapal mereka tenggelam. Hal ini yang memperlambat rencana penyerangan armada gabungan yang dipimpin Speelman. Sebab mereka harus memberi pertolongan dahulu kepada Poleman serta pasukannya yang kocar-kacir sebelum menghadapi musuh.

Agaknya masalah ini diketahui pula oleh prajurit Makasar yang berada di daerah Paju. Kraeng Bonto Majanang (adik Sultan Hassanuddin) memperkuat pertahanannya di daerah ini. Maka ketika pasukan gabungan datang melalui jalan darat prajurit-prajurit Makasar sudah bersiaga penuh.
“Seraaaang…!”, Kraeng Bonto Majanang berteriak memberi aba-aba pasukannya.
Pertempuranpun berkecamuk dengan hebatnya. Menyadari pasukannya berkekuatan lebih kecil dibanding pasukan gabungan yang personilnya nyaris tidak terhitung banyaknya itu maka Kraeng Bonto menerapkan siasat perang gerilya. Pasukannya tiba-tiba menyerang dengan kelincahan dan kekuatan penuh hanya dalam waktu beberapa kejap saja kemudian mereka berlari menghilang disela-sela rumah penduduk, menyusup diantara tanaman di pategalan, atau bersem-bunyi di kerimbunan semak belukar. Beberapa kejap kemudian pasukan itu muncul lagi menye-rang di bagian lain armada gabungan. Tentu saja mereka memilih bagian pasukan musuh mana yang paling lemah untuk diserang. Karena prajurit-prajurit Kasultanan Buton sudah mereka ketahui kemampuannya yang tidak seberapa hebat maka pasukan ini selalu menjadi sasaran penyerangan.

Speelman marah menghadapi cara bertempur Prajurit Makasar yang dinilainya licik. Maka dengan kenekadannya yang luar biasa dia memerintahkan untuk membakar kampung-kampung yang sudah ditaklukkan.
“Bakar semua rumah di setiap kampung yang kita taklukkan! Ini untuk mempersempit gerak pasukan Makasar yang licik itu!”, perintah Speelman kepada semua anak buahnya.
Tidak beberapa lama kemudian kampung-kampung di daerah Paju telah terbakar, api berkobar-kobar, asap hitam mengepul ke udara, rakyat kalang kabut, wanita dan anak-anak menjerit-jerit ketakutan. Sebagian prajurit Makasarpun terpaksa mundur ke daerah Galesong.
Kraeng Bonto Majanang bereriak-teriak menyemangati lelaki-lelaki Galesong yang terkenal pemberani itu untuk bergabung dengan Prajurit Makasar menyerang Belanda dan pasukan gabungan. (Akhiyadi)

Read previous post:
MERAPI-ANTARA Bupati Bantul Suharsono memantau potensi adanya jentik jentik nyamuk antisipasi perkembangbiakan sarang nyamuk di Bantul.
Masyarakat Bantul Diingatkan Waspadai DB

BANTUL (MERAPI) - Bupati Bantul Suharsono mengingatkan masyarakatnya mewaspadai penyakit demam berdarah dengue (DBD) yang berpotensi merebak atau menyerang pada

Close