MERIAM ANAK MAKASAR (9) – Menyeberang ke Jawa Gabung dengan Trunajaya

Sesudah perjanjian ditandatangani Speelman segera meninggalkan Buton bersama pasukannya. Sedang pasukan Belanda yang lain tetap di pulau Buton menjaga para tawanan perang.

SEPENINGGAL Speelman yang melanjutkan perjalanan ke Maluku menaklukkan Sultan Ternate, Tidore, Bacan, Banda dan terus ke Ambon. Daerah-daerah tersebut dipaksa untuk bergabung dengan Kompeni Belanda berperang melawan Makasar.
Malam harinya ketika suasana nampak sepi dengan angin laut yang lembut membelai menjadikan tentara Belanda yang menjaga rumah tahanan itu terkantuk-kantuk. Kraeng Bontamaranu dan semua anak buahnya bergerak mengendap-endap lalu menjebol pintu penjara. Ketika mereka keluar dari penjara maka setiap menjumpai Belanda dengan gerakan yang lincah dan cepat segera Belanda tersebut ditikamnya dari belakang dan mayatnya diseret dimasukkan ke dalam tahanan. Tidak cuma itu, Kraeng Bontamaranu, Daeng Winggeni, Panji Karonuban berikut para prajurit pengikutnya mendatangi kapal-kapala Belanda yang berada di pelabuhan. Diam-diam mereka mencari opsir-opsir Belanda yang menjaga kapal itu dan dengan keberanian yang luar biasa mereka menghabisi musuh dengan senjata tradisional mereka.

Banyak opsir Belanda yang jatuh menjadi korban dengan luka-luka ditubuhnya ada yang dadanya ditusuk cundrik, ada yang kepalanya pecah dipukul gembel, dan ada pula yang kepalanya hampir terpisah dari tubuhnya karena lehernya ditebas pedang.
“Kraeng Bontamaranu, lain waktu Belanda bisa membalas membantai kita?” kata Daeng Winggeni cemas.
“Jangan khawatir. Malam ini juga ajak seluruh prajuritmu menyeberang ke Jawa”.
“Menyeberang ke Jawa? Mengapa?”.
“Kita bergabung dengan Trunajaya. Dia juga tengah berperang melawan Kompeni Belanda.

Sultan Hasanuddin pernah mengatakan, “Kita boleh bergabung dengan siapa saja untuk melawan Belanda. Persatuan dan kesatuan itu sesungguhnya bukan hanya di Makasar saja tetapi seluruh Nusantara agar kita menjadi lebih kuat menghadapi Belanda”. Kata Kraeng Bontamaranu penuh keyakinan.
Di bawah sinar rembulan yang redup dan bebintang di langit yang berkedip kemalas-malasan Kraeng Bontamaranu, Daeng Winggeni, Panji Karonuban, dan seluruh anak buahnya yang berjumlah sekitar 2.000 orang menyeberang ke Jawa menggunakan kapal-kapala rampasan milik Belanda.
“Kawan-kawan, untuk menandai perjuangan babak baru ini namaku akan aku ganti. Maka sekarang panggil aku Kraeng Galesong sesuai dengan tanah kelahiranku di daerah Galesong”.
“Hahahaaaa, bagus nama panggilan itu”, saut Panji Karonuban.
Merekapun tertawa-tawa senang seakan pelayaran itu bagaikan pelayaran berwisata ke pulau Jawa. Untuk sementara orang-orang Makasar itu bisa melupakan pertempuran-pertempuran yang kadangkala terasa mengerikan, betul-betul menyabung nyawa. (Akhiyadi)

Read previous post:
ATASI MASALAH SAMPAH: Desa Sidomulyo Dirikan Bank Sampah

BAMBANGLIPURO (MERAPI) - Sampah selama ini menjadi permasalahan yang harus segera ditangani, karena berdampak pada pencemaran lingkungan. Bahkan, apabila dikelola

Close