MERIAM ANAK MAKASAR (8) – Nama Teluk Buton Diganti dengan Victoria Baai

Kembali tembak menembak terjadi lagi. Dari tengah laut terdengar desing peluru meriam yang melaju kencang ke arah perbukitan “Glegeerrrrr” suaranya menggelegar di tanah menghamburkan batuan kerikil dan debu ke udara.

“WAH, celaka ini”, gerutu Kraeng Bontamaranu, cemas.
“Apa katamu?”, bisik Daeng Winggeni.
“Tuh, lihat! Kapal-kapal pasukan Arupalaka yang ada di pantai timur Buton mulai datang bergabung dengan pasukan Kompeni”, jawab Kraeng Bontamaranu memberikan teropong yang baru saja dipakaianya.
Daeng Winggeni mencoba meneropongnya, “Wouw, jumlah kapal yang datang itu banyak sekali”, katanya menimpali.

Agaknya mereka dengan kapal-kapal itu akan mengepung Pulau Buton dari segala penjuru. Inilah yang mencemaskan para pimpinan prajurit Makasar yang berada di pulau Buton.
“Kita tidak akan kuat menahan serangan mereka”, kata Kraeng Bontamaranu.
“Lalu bagaimana?”.
“Kita lawan sekemampuan yang kita miliki. Bukan kita tidak berani tetapi jika sudah berusaha dan ternyata tidak mampu maka menyerah merupakan pilihan pahit yang mesti kita lakukan. Namun jika kalian akan berjuang sampai titik darah penghabisan maka berjuanglah”.

Benar. Apa yang diduga Kraeng Bontamaranu. Dari segala penjuru perbukitan kecil itu kemudian dihujani peluru meriam besar-besar. Cornelis Speelman benar-bener ingin segera menguasai Pulau Buton dengan cara membumihanguskan. Sudah tidak ada pilihan lain bagi prajurit-prajurit Makasar kecuali menyerah karena korban yang jatuh sudah begitu banyaknya.
Kraeng Bontamaranu segera mengibarkan bendera putih pertanda mengajak gencatan senjata. Speelman menghentikan serangannya dia dan segenap pasukannya bergegas menawan semua prajurit Makasar untuk dijadikan tahanan perang, dijebloskan ke dalam tahanan.
“Kita segera berembuk dengan Sultan Buton”, kata Speelman kepada temannya.
“Ya. Sebaiknya kita adakan perjanjian dengan Sultan Buton meski Arupalaka pernah melakukannya atas nama kita. Namun jika kita sendiri yang mengadakan perjanjian tentu poin-poinnya akan lebih baik”.

Akhirnya diperoleh perjanjian dengan Sultan Buton yang isi perjanjian tersebut antara lain:

  • Belanda bersedia membayar kerugian akibat perang kepada Sultan Buton sebesar 100 ringgit. – Sultan Buton harus membantu Belanda. Nama Teluk Buton diganti dengan Victoria Baai yang berarti teluk kemenangan.
    Sesudah perjanjian ditandatangani Speelman segera meninggalkan Buton bersama pasukannya. Sedangkan pasukan Belanda yang lain tetap berada di pulau Buton menjaga para tawanan perang yang ratusan orang jumlahnya itu. (Akhiyadi)

Read previous post:
JELANG PILKADA BANTUL DAN GUNUNGKIDUL: Kapolda Wanti-wanti Jaga Kondusivitas

BANTUL (MERAPI) - Kapolda DIY, Irjen Pol Asep Suhendar menekankan agar anggotanya fokus dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas)

Close