MERIAM ANAK MAKASAR (7) – Naik ke Bukit untuk Berlindung Sekaligus Menyerang

Di Tepi pantai Pulau Buton sisi barat itulah kemudian terjadi pertempuran antara Armada Belanda dengan prajurit-prajurit Makasar.

SIRINE terdengar dari kapal Belanda itu meraung-raung keras sekali. Ini pertanda pertempuran segera dimulai, Cornelis Speelman meneriaki nakoda kapal agar bergerak maju lagi untuk mencapai jarak tembak bedil agar penyerangan bisa lebih gencar lagi. Sebab menurut perhitungannya jarak tembak meriam bisa disesuaikan.
Kraeng Bontamaru, Daeng Winggeni, dan Juga Panji Karonuban tau betul apa yang akan diperbuat oleh Armada Belanda itu. Maka merekapun segera menembakkan meriam, beberapa kali dentuman senjata besar itu terdengar.

Cornelis Speelman mengumpat-umpat. Karena lambung kapalnya terkena meriam. Meski kapal itu tidak rusak berat dan tidak akan tenggelam dia tidak bisa menerimanya. Serangan ini harus dibalas dengan meriam yang lebih besar.
Dentuman demi dentuman meriam-meriam mereka saling balas membalas diiringi ribuan peluru bedil yang berdesing-desing bagaikan laju badai maut di tengah laut yang setiap kesempatan merenggut nyawa mereka yang saling berseteru.

Bagaimanapun Kraeng Bontamaranu dan kawan-kawan harus mengakui kalau persenjataan Cornelis Speelman jauh lebih unggul dan jumlahnya juga lebih banyak.
“Daeng Winggeni, bagaimana jika kita naik ke bukit sebelah agar kita punya posisi tembak yang lebih bagus?”, kata Kraeng Bontamaranu.
“Setuju”, jawab Daeng Winggeni mengacungkan jempol kanannya, “Kawan-kawan, bawa senjata kalian naik ke perbukitan sebelah. Panji Karonuban, cari teman-temanmu dan seret meriam-meriam itu naik ke perbukitan!”.

“Siap, Winggeni”, jawab Panji Karonuban yang bertubuh kekar itu. Bersama beberapa prajurit bawahannya mereka menyeret meriam itu naik ke perbukitan sebelah. Di sana posisi tembaknya jauh lebih baik. Kecuali itu juga bisa berlindung diantara pepohonan maupun semak belukar sehingga tidak mudah untuk dijadikan sasaran bidik oleh musuh yang berada di tengah laut lepas.

Kembali tembak menembak terjadi lagi. Dari tengah laut terdengar desing peluru meriam yang melaju kencang ke arah perbukitan “Glegeerrrrr” suaranya jatuh menggelegar di tanah menghamburkan batuan kerikil dan debu ke udara, pecahan peluru meriam itu beserakan kemana-mana satu, dua, tiga diantaranya mengenai tubuh prajurit-prajurit Makasar yang kemudian berteriak kesakitan dengan darah segar mengucur karena pecahan tersebut menembus kulit dagingnya. Atau kadang pula mereka tak sempat berteriak kesakitan namun langsung jatuh ke bumi dan nyawanya melayang memenuhi panggilan Illahi, mati sebagai pahlawan ibu pertiwi. (Akhiyadi)

Read previous post:
MERAPI-ANTARA Prof Irham menunjukkan aplikasi temuannya dengan nama "Rektanigama".
Dosen UGM Kembangkan Aplikasi Permudah Pencatatan Usaha Tani

DEPOK (MERAPI) - Dosen Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Irham, mengembangkan aplikasi "Rektanigama" atau Rekam Usahatani Gadjah Mada,

Close