MERIAM ANAK MAKASAR (6) – Heran di Gudang Menemukan Bedil dan 5 Meriam

Pagi itu udara jernih, angin laut semilir sepoi-sepoi, dingin menyegarkan. Sudah sekitar sepekan Kraeng Bontamaranu bisa tenang beristirahat dari hiruk pikuknya peperangan.

MEREKA bergabung dengan prajurit Makasar yang dipimpin oleh Daeng Winggeni dan Panji Karonuban. Mereka oleh Sultan Hasanuddin ditugaskan menjaga benteng Buton dan siap meladeni serangan apabila Arupalaka dan Poleman yang beberapa bulan lalu pernah berada di pantai sisi timur Pulau Buton.
“Kraeng Winggeni, sebenarnya apa sih yang tersimpan di Benteng Buton ini?”, tanya Kraeng Bontamaranu.

“Ya, biasa seperti benteng-benteng yang lainnya. Ada persenjataan, barang-barang kepentingan keprajuritan, dan juga persediaan bahan pangan”, jawab Daeng Winggeni.
“Barang-barang itu milik siapa? Toh di pulau ini juga bertahta Sultan Buton?”.
“Ya, mestinya milik Kerajaan Goa. Sebab Sultan Buton sudah mengakui kekuasaan kerajaan Goa dibawah Sultan Hasanuddin. Meski akhir-akhir ini sempat diancam oleh Arupalaka agar bergabung dengan Kompeni Belanda?”.

“Selama ini tidak ada perselisahan antara Sultan Buton dengan para penguasa di Kerajaan Goa?”.
Daeng Winggeni menggeleng, “Tidak. Hubungan mereka baik-baik saja. Entah kalau nanti Sultan Buton terpengaruh ajakan Arupalaka?’.
“Sudah berapa lama kamu tinggal di sini?”.
“Sudah lama banget, aku lahir di pulau ini?”, jawab Daeng Winggeni tersenyum.
“Wouw, penduduk asli ya?”.
“He.eh”,

Lagi asyik-asyiknya mereka bercengkerama di tepian pantai tiba-tiba Daeng Winggeni terperanjat. Dia buru-buru memasang teropongnya di kedua matanya, “Wouw, dari kejauhan itu agaknya armada tentara Belanda yang akan datang kemari. Apakah mereka mau menyerang kita?”.
“Menyerang atau tidak yang penting kita mempersiapkan diri. Keluarkan semua persenjataan yang ada di benteng!”, perintah Kraeng Bontamaranu.
Daeng Winggeni segera memerintahkan Panji Karonuban yang diserahi kunci gudang di dalam benteng Buton.

Kraeng Bontamaranu setengah heran melihat isi gudang itu karena kecuali beberapa pucuk bedil juga ada sekitar 5 meriam ukuran sedang dan kecil.
“Dari mana kamu dapat meriam-meriam itu?”, tanya Kraeng Bontamaranu.
“Sekitar tiga tahun yang lalu. Ada kapal Portugis terdampar di pantai Buton. Selain karena didorong badai besar juga karena di tengah laut kapal itu mengalami kerusakan. Nah, kapal itu membawa beberapa pucuk meriam lalu kami sita”.
“Ya ya ya, bagus. Mari kita gunakan meriam-meriam itu untuk menyambut kedatangan armada Belanda”, kata Kraeng Bontamaranu. (Akhiyadi)

Read previous post:
Setiap Kecamatan di Sleman akan Ada RTH

SLEMAN (MERAPI) - Kebutuhan akan adanya ruang tata hijau (RTH) di setiap wilayah kini sedang digencarkan oleh tiap instansi, tak

Close