MERIAM ANAK MAKASAR (5) – Digempur, Prajurit Makasar Pantang Menyerah

Prajurit-prajurit Makasar telah mendapat instruksi bahwa untuk sementara Ambon dibiarkan saja dulu dikuasai Belanda. Fokus mereka mempertahankan Sambaopu sekaligus melindungi Kerajaan.

SIRINE dibunyikan dari Kapal Speelman meraung-raung gemanya menyusup diantara debur ombak memecah kelengangan samodera di pagi hari. Prajurit-prajurit Makasar mengerti kalau Speelman akan memulai serangannya. Meriam pun menggelegar, pelurunya jatuh di area pertahanan prajurit Makasar.
“Balas dengan Meriam Anak Makasar!”, perintah Daeng Popo pemimpin Laskar Makasar.
“Baiklah aku balas serangan tadi” , jawab Kraeng Sona yang kebetulan bertugas menembakkan Meriam raksasa itu.

“Glegeerrrrrrr…” terdengar suaranya mengguncang medan pertempuran.
Belanda bersama Arupalaka dan Poleman juga berusaha membalas serangan tadi. Mortir dan meriam nampak beterbangan di udara jatuh ke pertahanan masing-masing. Meriam Anak Makasar berkali-kali ditembakkan sehingga memporakporandakan pertahanan pasukan gabungan yang dipimpin Kompeni Belanda.
Kendatipun begitu serangan pasukan gabungan juga cukup merepotkan pertahanan prajurit-prajurit Makasar. Hal ini menyebabkan pertempuran berlangsung cukup lama dari pagi hingga menjelang malam. Mereka saling gempur dengan kekuatan maksimal masing-masing. Kiranya Meriam Anak Makasar masih lebih unggul karena ukurannya yang super besar dengan daya ledaknya yang tinggi.

Menjelang malam pertempuran dihentikan, gencatan senjata berlangsung sampai pagi hari.
berpuluh-puluh bahkan sampai ratusan anak buah Speelman berikut orang-orangnya Arupalaka diketahui jatuh menjadi korban. Sedangkan di pihak prajurit Makasar korban juga tidak sedikit.
Hari berikutnya, pertempuran kembali berkobar di siang hari. Masing-masing menyerang dengan senjata andalannya. Sampai sore pertempuran masih berlangsung seru korban yang jatuh dikedua belah pihak juga makin bertambah banyak. Menjelang malam Belanda kian membabi buta memuntahkan ribuan peluru. Akhirnya prajurit Makasar terpaksa ditarik mundur ke arah kota Sombaopu dengan maksud untuk menjaga dan melindungi Sultan Hasanuddin yang berada di sana.

Kesempatan ini dimanfaatkan oleh pasukan tentara Belanda untuk membakar kampung-kampung yang ditinggalkan prajurit Makasar, ada 30 kampung yang dibakar, mereka juga membakar kapal-kapal milik Makasar sebanyak 100 buah, dan juga memusnahkan beratus-ratus ton beras rakyat. Saat itu Benteng Panakukang jatuh ke tangan Belanda.

Meskipun keteteran menahan gempuran serangan pasukan Belanda namun prajurit Makasar pantang menyerah. Mereka masih sesekali membalas serangan meski sambil mundur. Sebagian prajurit Makasar ada yang kemudian bergabung dengan prajurit yang berada di kota Sombaopu dan sebagian yang lain menyeberang ke Pulau Buton yang dipimpin oleh Kraeng Bontamaranu. Sebab di pulau Buton ini, tepatnya disisi pantai barat, Kerajaan Goa juga memiliki benteng pertahanan yang harus dijaga pula dari serangan Belanda. (Akhiyadi)

Read previous post:
DINSOS GUNUNGKIDUL: Galakkan Program Pemberdayaan Anak Telantar

WONOSARI (MERAPI) - Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Gunungkidul, menggalakkan program rehabilitasi dan pemberdayaan anak telantar karena hingga saat ini ada

Close