MERIAM ANAK MAKASAR (3) – Perang Besar di Tengah Lautan pun Pecah

Kapal besar Belanda yang sudah merapat di pelabuhan Pulau Buton, Kapten kapalnya segera ngawe-awe. Dia memberi aba-aba agar Arupalaka dan bala prajuritnya naik ke kapal.

ADA apa Tuan?”, tanya Arupalaka sambil memberi hormat setelah naik ke kapal.
“Bantu orang-orangku mempersiapkan senjata. Tuh, lihat! Dari jauh kapal-kapal Makasar telah membuntutiku. Siapkan juga orang-orangmu mungkin kita akan berperang”, kata Kapten Kapal De Vlammingh.

Benar. Ketika kapal-kapal yang tadi membuntutinya mendekat merekapun mengerti bahwa kapal-kapal kecil yang berjumlah puluhan itu adalah prajurit-prajurit Goa, Makasar. Arupalaka segera mempersiapkan prajuritnya dan Belanda juga menyiagakan diri.
Kapal besar milik Belanda itu memuat berpuluh-puluh bedil berikut pelurunya dan juga ada beberapa pucuk meriam yang dijajar-jajar di geladak kapal siap untuk ditembakkan.
“De Clerk, tembaaak!”, teriak Kapten Kapal Belanda memberi aba-aba pada anak buahnya.

Meriampun segera menggelegar. Perang di lautan pecah. Prajurit-prajurit Makasar dengan kapal-kapal kecil nampak lebih lincah dengan berbagai manuver, memutar, melingkar, dan kadang-kadang saling menjauhi satu sama lainnya. Sedangkan prajurit yang berada dalam kapal itu menembaki musuh dengan bedil-bedilnya. Sementara itu kapal besar Belanda sulit untuk menggempur kapal-kapal kecil Makasar yang selalu bergerak. Sehingga meriam-meriam yang ditembakkan tidak mengenai sasaran, hanya jatuh di laut lepas.

Arupalaka kebingungan, senopati perang andalannya ternyata telah menjadi korban tembakan bedil prajurit Makasar.
“Tuan, tembakkan lagi meriammu agar musnah itu prajurit Makasar!”, pinta Arupalaka.
De Vlammingh memandangi wajah Arupalaka, “Menembak itu soal gampang, tetapi peluru-peluru meriam itu dibuat dengan biaya produksi yang tidak murah. Kamu mau membiayai pembuatan peluru meriam?”, tanyanya.

Arupalaka terdiam. Namun dia tidak mau kehilangan banyak prajuritnya yang jadi korban. Akhirnya tanpa pikir panjang dia menjawab, “Ya, aku mau Tuan. Akan kubayar biaya produksi peluru meriam itu”.
“Glegerrrr, glegerrrr, glegerrrr…..!” berpuluh-puluh peluru meriam dimuntahkan dari moncong senjata berbentuk silinder memanjang itu. Peluru yang dilepaskan tersebut berapapun jumlahnya besuk selesai perang harus dibayar oleh Arupalaka. Sebuah tanggungjawab yang tidak ringan mengingat saat itu dia adalah seorang pelarian yang baru saja kalah perang.
Melihat Belanda mulai mengamuk kapal-kapal kecil prajurit Makasar segera menjauh meninggalkan medan pertempuran kembali ke pantai barat Makasar. Satu dua diantara kapal-kapal itu ada juga yang tenggelam terkena tembakan meriam Belanda. (Akhiyadi)

Read previous post:
Kebutuhan Daging Sapi Sleman Aman

SLEMAN (MERAPI) - Peristiwa sapi mati di wilayah Gunungkidul yang terjangkit virus antraks, dikhawatirkan mengurangi pasokan daging khususnya di Kabupaten

Close