MERIAM ANAK MAKASAR (1) – Pertempuran Sengit, Pasukan Belanda Terpaksa Mundur

MERIAM ANAK MAKASAR (1) - Pertempuran Sengit, Pasukan Belanda Terpaksa Mundur

Kesultanan Goa adalah salah satu kerajaan besar dan paling sukses di daerah Sulawesi Selatan. Rakyat dari kerajaan ini berasal dari Suku Makassar yang berdiam di ujung selatan dan pesisir barat Sulawesi bagian selatan. Kerajaan ini memiliki raja yang paling terkenal bergelar Sultan Hasanuddin, yang melakukan peperangan yang dikenal dengan Perang Makassar (1666-1669) terhadap VOC. Berikut kisah peperangan itu, yang diambil dari Sejarah Pahlawan-pahlawan Bangsa.

TAHUN 1662 di dekat Makasar sebuah Kapal VOC terdampar. Prajurit-prajurit kerajaan Goa segera menghampirinya dengan senjata terhunus. Awak kapal VOC itu ketakutan dan segera menyerah.
“Apa muatan kapalmu ini?”, tanya Daeng Popo pimpinan kelompok prajurit itu.
“Macam-macam, Tuanku. Di antaranya meriam berikut pelurunya dalam jumlah ribuan buah. Selain itu juga ada berbagai jenis senapan berikut pelurunya meski jumlahnya tidak banyak. Sedangkan yang lain hanyalah bahan-bahan pangan, bahan bakar berupa minyak, dan jerigen-jerigen itu hanyalah berisi air minum saja”, kata Kapten Kapal itu menjelaskan.
“Meriam berikut pelurunya dan segala macam senapan kami rampas!”, kata Daeng Popo dengan pandangan matanya yang tajam menantang.
“Ya ya ya, Tuan. Silakan tetapi jangan bunuh kami dan mohon jangan ditawan”, Kapten kapal itu merengek minta dikasihani.

Daeng Popo dan semua anak buahnya kemudian mengangkut ke 16 meriam berikut pelurunya. Di antara meriam-meriam itu ada satu yang paling besar yakni diameternya berukuran 41,5 Cm dengan panjang 6 M dan tebalnya 12 Cm. Ini merupakan meriam terbesar yang pernah dimiliki oleh raja-raja di Nusantara. Kemudian meriam raksasa tadi diberi nama Meriam Anak Makasar.

Tanggal 19 Juli 1667 Raja Goa Sultan Hasanuddin merasa kerepotan karena harus menghadapi beberapa musuh sekaligus. Pasukan Soppeng dan Ternate sudah memihak Belanda dan siap menyerang ibu kota Kerajaan Goa, Sombaopu, dari arah utara. Sedangkan pasukan kerajaan Bone dipimpin oleh Arupalaka dan Poleman menyerang dari arah selatan dengan menerobos daerah Turatea. Saat itulah Pasukan kerajaan Goa menghujani pasukan gabungan Arupalaka, Soppeng, Ternate, dan Belanda yang dipimpin Cornelis Speelman dengan tembakan Meriam Anak Makasar dan meriam-meriam rampasan lainnya juga digunakan untuk menghalau musuh.

Begitu sengitnya pertempuran itu berlangsung dari pagi hingga malam. Pasukan Belanda terpaksa mundur tidak tahan dengan gempuran meriam tersebut. Dalam pertempuran ini seorang perwira Belanda beserta 24 anak buahnya tewas. Cornelis Speelman juga terluka di kakinya terkena pecahan peluru meriam yang jatuh meledak di dekatnya.

Melihat situasi medan yang kurang menguntungkan Arupalaka dan Poleman bergegas membawa pasukannya menyingkir dari Sombaopu menuju ke benteng Barombong. Mereka menguntit pergerakan pasukan Belanda. Ternyata di sinipun juga disambut dengan tembakan-tembakan meriam. Pasukan Kerajaan Goa yang dipimpin oleh Kraeng Langkese cukup andal untuk menghadang gerak maju pasukan gabungan itu. (Akhiyadi)

Read previous post:
Duet AHM-JP Menuju Pilkada Bantul Tinggal Selangkah Lagi

BANTUL (MERAPI) - Duet pasangan Abdul Halim Muslih (AHM) dan Joko Purnomo (JP) semakin menguat. Pasangan yang dimunculkan koalisi PKB-PDIP

Close