PENGEMBARAAN SYEH JUMADIGENO DAN WASIBAGENO (8-HABIS) – Sumber Air Pernah Jadi Masalah

Pada masa lalu ketika Ki Ageng Wonolelo masih mengembara dan tengah menyiapkan pembukaan hutan, pernah merasakan kehausan. Kebetulan saat itu ia bertemu seorang wanita yang membawa klenthing (jun) atau alat menampung air yang terbuat dari gerabah.

DIA kemudian meminta air pada wanita tersebut untuk mengobati rasa hausnya. Namun wanita tersebut berkata kepadanya bahwa ia tidak mempunyai air. Ki Ageng Wonolelo tahu bahwa dirinya tengah dibohongi. Karena itu ia berkata bahwa daerah tempat wanita itu berada tidak akan ada air. Seberapa dalamnya orang menggali tanah tidak akan menemukan mata air.

Hal itu pun benar-benar terjadi. Masalah air memang pernah menjadi persoalan yang besar di Dusun Pondok Wonolelo di masa lalu. Akan tetapi setelah warga dan trah Ki Ageng Wonolelo mendoakan dan meminta kerelaan Ki dan Nyi Ageng Wonolelo, maka air pun mudah didapatkan di Dusun Pondok Wonolelo. Sumur pun mulai dibuat pertama kali di tahun 1960-an.

Bisa dikatakan bahwa peziarahan di makam Ki/Nyi Ageng Wonolelo tidak pernah sepi. Selain mendoakan arwah Ki/Nyi Ageng Wonolelo, banyak juga orang yang datang berziarah dengan persoalan yang dideritanya. Umumnya orang-orang yang stres datang ke tempat ini dengan harapan agar arwah Ki/Nyi Ageng Wonolelo mendoakannya sehingga stress-nya sembuh.

Stres tersebut bisa bermacam-macam penyebabnya. Bisa oleh karena tidak mendapatkan pekerjaan, jodoh, tak naik pangkat, tak lulus ujian dan sebagainya. Untuk menziarahi makam Ki/Nyi Ageng Wonolelo memang tidak ada syarat tertentu kecuali izin dari jurukunci setempat. Selain itu umumnya mereka juga akan membawa kembang telon yang isinya salah satunya berupa kembang kantil. Kembang kantil inilah yang kemudian akan dibawa pulang oleh peziarah. Biasanya jurukunci akan memandu peziarahan.

Kompleks makam Ki/Nyi Ageng Wonolelo memiliki ukuran luas sekitar 1 hektar. Hal itu mencakupi cungkup, halaman, dan pendapa makam Ki/Nyi Ageng Wonolelo dan kompleks makam umum serta lapangan yang dilengkapi panggung yang digunakan untuk penyebaran apem dalam upacara Saparan Ki Ageng Wonolelo. Nisan Ki/Nyi Ageng Wonolelo berukuran relatif sama.
Masing-masing memiliki panjang sekitar 2 meter dan lebar sekitar 85 cm serta tinggi nisan sekitar 70 cm. (Albes Sartono)

Read previous post:
Wewe Gombel Pinjam Payung

MUSIM hujan seperti sekarang ini, kadang tanpa berhenti air tumpah dari langit entah pagi siang sore ataupun malam. Sudah tentu

Close