PENGEMBARAAN SYEH JUMADIGENO DAN WASIBAGENO (7) – Tidak Menyukai Pengemudi Sombong

Pernah terjadi ada seorang sopir truk yang sombong ketika memasuki Dusun Pondok Wonolelo kendaraannya ngadat. Ceritanya, saat truknya lewat di dekat makam Ki Ageng Wonolelo ada jurukunci memperingatkannya bahwa truknya tidak kuat karena sarat muatan itu.

TETAPI dengan pongah sopir itu menjawab bahwa truknya pasti kuat karena mesin truknya bagus. Namun begitu mesin truk distarter ternyata mesin tidak mau jalan. Hal ini membuat sopir tersebut panic. Akhirnya truk bisa berjalan kembali setelah jurukunci setempat mendoakannya.
Hal yang sama juga pernah terkadi pada 4 buah gerobak sapi yang akan mengangkut kedelai dari dusun ini. Waktu itu tiga sopir gerobak berkata bahwa sapinya sehat-sehat dan kuat.

Seberapa pun kedelai yang dapat termuat di gerobak pasti dapat terangkut. Namun begitu hal tersebut dilaksanakan, tiga gerobak macet tidak bisa bergerak. Sedangkan satu gerobak yang lain dapat berjalan wajar karena sopirnya tidak mau sombong.
Di Dusun Pondok Wonolelo juga tidak dikenal adanya curi-mencuri atau clemer ‘suka mengambil milik orang lain’. Di dusun ini ada satu kepercayaan atau pandangan bahwa siapa pun yang mencuri di Dusun Pondok Wonolelo tidak akan selamat (lahir dan batinnya). Selain itu, barang yang diambilnya tidak akan laku dijual.

Oleh karena dusun ini dibuka atau didirikan oleh tokoh yang setingkat wali, maka siapa pun yang berada di Dusun Pondok Wonolelo tidak boleh bicara wola-wali (berkali-kali/plin-plan/mencla-mencle, dan sebagainya).
Siapa pun yang berbuat demikian itu nantinya akan celaka sendiri. Bagi orang yang akan ke Dusun Pondok Wonolelo tidak boleh berkata bahwa ia bingung. Sebab orang yang demikian itu biasanya benar-benar akan menjadi bingung ketika menuju dusun ini.

Bagi orang yang ingin menziarahi makam Ki Ageng Wonolelo tidak diperkenankan membawa orang yang bukan muhrimnya. Selain itu tempat ziarah untuk pria dan wanita dipisahkan di tempat ini. Hal demikian ditekankan dengan maksud untuk menjaga kesucian tempat tersebut.
Pada masa lalu ketika Ki Ageng Wonolelo masih mengembara dan tengah menyiapkan pembukaan Hutan Wonolelo, Ki Ageng Wonolelo pernah merasakan kehausan. Kebetulan saat itu ia bertemu seorang wanita yang membawa klenthing (jun) atau alat menampung air yang terbuat dari gerabah. (Albes Sartono)

Read previous post:
Ada Wanita Besar di Pundaknya

AKHIR-AKHIR ini keluarga Sandri sedang tidak bagus. Suaminya, Rinto, selalu mengeluh sakit pada bahunya. Bahkan Rinto juga sering kesurupan tanpa

Close