PERJALANAN PENDEK PERLAWANAN KARAENG GALESONG (14) – Miris Melihat Pasukan Sudah Bersimbah Darah Masih Melawan

“Mundur, mundur, munduuurrr….!” seorang lelurah prajurit meneriakkan aba-aba menirukan teriakan Tumenggung Pawira Taruna. Pasukan prajurit Mataram pun mulai menarik diri sebelum terlanjur korban banyak berjatuhan terkena peluru meriam yang jatuh meledak dan pecahannya menyebar kemana-mana.

AGAKNYA jumlah peluru meriam yang dimiliki Karaeng Galesong terbatas. Sehingga mereka terpaksa menghentikan senjata dahsyat tersebut karena kehabisan amunisi. Tumenggung Pawira Taruna mencoba menahan gerak mundur pasukannya. Beliau lalu menunggang kudanya diiringi oleh empat puluh orang pengiringnya mendekati pertahanan Karaeng Galesong. Mereka mengamuk menyerang orang-orang Karaeng Galesong dengan bersenjatakan tombak, kuda-kuda merekapun terlatih baik dapat melakukan serangan kepada musuh dengan menyepakkan kaki-kakinya ke sana kemari mencari sasaran. Jika kurang waspada kena pengkalan kaki kuda itu orang bisa pecah dadanya.

Karaeng Galesong sama sekali tidak miris menghadapi serangan itu. Dia bersama anak buahnya melawan dengan gigih bersenjatakan lembing, lowok, tuwin, dan cundrik yang menjadi sangat berbahaya di tangan mereka. Ternyata ke empat puluh pengiring Tumenggung Pawira Taruna berhasil dihabisi oleh Karaseng Galesong dan kawan-kawannya dan Tumenggung Pawira Taruna terluka.
Prajurit-prajurit Mataram giris menyaksikan tandang mereka. Bagaimana mungkin orang yang sudah bersimbah darah dan tubuhnya penuh luka goresan senjata tajam saja masih sanggup mengadakan perlawanan.

“He, para prajurit. Ayo kita mengamuk lagi, bunuh mereka semua!”, teriak Tumenggung yang sudah terluka ini mencoba membangkitkan semangat juang anak buahnya. Tetapi para prajurit Mataram itu secara mental sudah kalah, mereka takut menghadapi orang-orang Karaeng Galesong. Kemudian para prajurit Mataram itupun berlarian ke tepi pantai berebut naik perahu. Karena sangat penuh penumpang perahu layar tadi tenggelam di tengah laut, habis riwayat mereka.

***

Karaeng Galesong dan Trunajaya segera menemui Panembahan Rama di Kediri. Orang tua yang sakti dan ampuh itu membawa kabar dari Pangeran Adipati Anom di Mataram. Putra sang Prabu tersebut diam-diam kurang sependapat dengan ayahnya. Tidak cuma itu, Sang Prabu yang dinilai oleh para petinggi Mataram sering berbuat kejam kepada pihak-pihak yang berseberangan pendapat itu sungguh merepotkan. Siapa saja yang dicurigainya akan mengadakan pemberontakan pasti dibunuh. Ribuan ulama dan santri pernah menjadi korban kekejaman beliau mereka dan keluarganya dibantai tanpa ampun lantaran dituduh akan berbuat makar. (Akhiyadi)

Read previous post:
Babinsa dan Relawan Sigap Atasi Bencana Alam

SLEMAN (MERAPI) - Terjadinya hujan deras disertai angin belum lama ini, mengakibatkan pohon tumbang di beberapa wilayah di antaranya di

Close