PERJALANAN PENDEK PERLAWANAN KARAENG GALESONG (12) – Tumenggung Pawira Taruna Jadi Panglima Perang

Kekalahan Prajurit Mataram sekaligus kematian Panji Karsula sudah di dengar oleh Kanjeng Sultan di Mataram. Beliau segera memerintahkan penggantinya yaitu Tumenggung Pawira Taruna agar segera berangkat ke Demung dan Pejarakan untuk melanjutkan menumpas Karaeng Galesong dan pengikutnya.

SENDIKA dhawuh, Kanjeng Sultan”, jawab Tumenggung Pawira Taruna.
“Pawira Taruna, kamu ingsun izinkan mengajak Wirabumi, Wirawangsa, dan Pulangjiwa. Selain itu juga ajak pula satu bataliyon kompeni dibawah pimpinan Kapten Dulkup yang berkedudukan di Jepara. Mereka telah berjanji ingin membantu Mataram!”
“Sendika dhawuh, Kanjeng Sultan”

Tumenggung Pawira Taruna dan rombongan segera berangkat ke Demung naik perahu layar menyusuri pantai utara Jawa ke arah timur. Sesampainya di Jepara Tumenggung Pawira Taruna menemui Kapten Dulkup menanyakan apakah dia sudah berjanji kepada Kanjeng Sultan untuk membantu Mataram?.
“Ya, aku sanggup bantu Mataram asalkan ….??” Belanda itu tersenyum memandangi wajah Tumenggung Pawira Taruna.
“Asalkan apa?” Tumenggung Pawira Taruna mendesak sambil matanya mendelik.
“Ha ha ha…” Kapten Dulkup tertawa sembari menggangsurkan jempol kanannya ke jari-jarinya berkali-kali.

“Maksudmu, kamu minta duit? Bayaran atau upah? Begitu!”
“Betul, betul, betul, Tumenggung. Kita kan kerja bertaruh nyawa? Masak nggak dibayar?”
“Huh, dasar!”, maki Tumenggung Pawira Taruna mencibir.
“Dasar apaan?”.
“Dasar kamu bule mata duitan!”.

Kapten Dulkup tertawa terbahak-bahak. Lalu dia bergegas mempersiapkan pasukan VOC sesudah Tumenggung Pawira Taruna menyanggupinya untuk membayar kompeni itu jika nanti menang perangnya.
Tumenggung Pawira Taruna juga mengutus lurah prajurit Sarageni bernama Ngabei Kuntarana agar menemui Trunajaya di Sampang Madura. Sebab sudah beberapa kali pisowanan Madura tidak mau sowan kepada Kanjeng Sultan di Mataram.
“Sampaikan kepada Trunajaya suratku ini!” kata Tumenggung Pawira Taruna berpesan.
“Sendika, Ki Tumenggung” jawab Ngabei Kuntarana segera beringsut dan berangkat ke Sampang yang terletak di pulau Madura.
Di Sampang naluri Trunajaya sudah bisa mengira-ira kalau akan kedatangan utusan dari Mataram. (Akhiyadi)

Read previous post:
Tiga Demit Sedang Berpesta

JAM sembilan malam biasanya Giono sudah pulang dari belajar bersama di rumah Edi. Selesai belajar bersama mereka nonton sepakbola di

Close