PERJALANAN PENDEK PERLAWANAN KARAENG GALESONG (11) – Kebodohannya Membuat Panji Karsula Takut Dihukum Mati

Karaeng Galesong menunggu malam menjadi larut. Bersama dengan rembulan di langit yang memancarkan sinar terang mereka keluar dari dalam hutan, senjata-senjata mereka terhunus. Dengan mengendap-endap mereka melangkah sabar mendekati Alun-alun dimana para Pajurit Mataram tengah tertidur lelap dengan senjata-senjata yang tergeletak di dekatnya.

DEMIKIANLAH, orang-orang Karaeng Galesong itu segera megamuk membunuh prajurit-prajurit Mataram yang tertidur pulas. Ribuan jumlah prajurit Mataram yang mati jadi korban keganasan Karaeng Galesong dan pengikutnya, darah membanjir di alun-alun dan bau anyirnya mengundang puluhan burung Gagak yang terbang berkitar-kitar di langit pagi yang cerah.

Pagi itu Panji Karsula dan beberapa pemimpin Mataram kecewa, mereka tak habis pikir dengan peristiwa ini. Kenapa hal yang umumnya ditidakmungkinkan terjadi kok justru malah tiba-tiba menjelma menjadi kenyataan yang amat memilukan? Jelas ini sebuah kebodohan yang harus aku bayar mahal, Panji Karsula judheg. Mendadak hatinya gemetar ketledorannya pasti akan berbuah pidana pati dari Kanjeng Sultan. Kematian itu memang akan terjadi pada setiap manusia, tetapi membayangkan pidana pati yang mesti diterimanya dari Kanjeng Sultan sungguh sangat mengerikan. Dia bakal dipenggal lehernya dan kepalanya jatuh menggulundung di tanah berdebu.

Maka diputuskanlah untuk diam-diam meninggalkan prajurit-prajuritnya, Panji Karsula melarikan diri. Tujuan utamanya ke kota Jepara dimana banyak sanak saudaranya tinggal di sana. Jalan pintas pun ditempuhlah dengan menyusup-nyusun hutan belantara, menaiki bukit, menyerang sungai, dan juga melewati dari kampung ke kampung.

Akhirnya pelarian Panji Karsula sampai juga ke Jepara, dia kelelahan yang amat sangat langkah kakinya sudah tidak kuat lagi menyangga tubuhnya, dia terjatuh dan meninggal dunia.

***

Kekalahan Prajurit Mataram sekaligus kematian Panji Karsula sudah di dengar oleh Kanjeng Sultan di Mataram. Beliau segera memerintahkan penggantinya yaitu Tumenggung Pawira Taruna agar segera berangkat ke Demung dan Pejarakan untuk melanjutkan menumpas Karaeng Galesong dan pengikutnya. (Akhiyadi)

Read previous post:
Masyarakat Tak Perlu Cemas Penyakit Antraks

DEPOK (MERAPI) - Pakar mikrobiologi Fakultas Kedokteran Hewan UGM, AETH Wahyuni menilai, penyakit antraks di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) termasuk

Close