PERJALANAN PENDEK PERLAWANAN KARAENG GALESONG (10) – Pasukan Mataram Terbuai dengan Kemenangan Mudah

PERJALANAN PENDEK PERLAWANAN KARAENG GALESONG (10) - Pasukan Mataram Terbuai dengan Kemenangan Mudah
PERJALANAN PENDEK PERLAWANAN KARAENG GALESONG (10) – Pasukan Mataram Terbuai dengan Kemenangan Mudah

“Pengecut kau! Kawan-kawan, lepaskan anak panah kalian!””, teriak seorang lurah Prajurit Sarageni bernama Ngabei Wangsadipa sambil mengejar musuhnya. Dia menghujani mereka dengan ratusan anak panah yang dilepaskan dari busurnya. Sehingga banyak pasukan Karaeng Galesong yang jatuh jadi korban tertembus punggungnya.

SETELAH orang-orang Karaeng Galesong itu menghilang di balik rimbunnya hutan, maka para prajurit Mataram bergegas akan masuk ke benteng menjarah barang-barang apa saja yang ada di sana sebagaimana kebisaan mereka jika menang perang.
“Jangan masuk ke benteng!”, Panji Karsula melarang mereka.
Para lurah prajurit itu terdiam memandangi Panji Karsula, “Kenapa tidak boleh?”, tanya mereka mendelik.
“He, jika kubilang jangan ya jangan!. Ini kan sudah malam? Besuk pagi saja jika kalian mau menjarah harta benda yang ada di dalam benteng itu. Sekarang kita beristirahat di alun-alun!”, ajak Panji Karsula.

Tidak ada yang berani menjawab kata-kata senopati perang yang digdaya itu kecuali hanya menuruti perintahnya. Prajurit-prajurit Mataram yang ribuan jumlahnya lalu beristirahat dengan duduk-duduk dan tidur-tiduran melepas lelah. Mereka bertebaran di seputar Alun-alun sambil menikmati hidangan makan minum yang disajikan oleh kawan-kawan mereka yang hari itu bertugas di dapur umum.

Terbuai oleh kemenangan yang baru saja berhasil mereka peroleh dengan mudahnya, Panji Karsula dan para pemimpin Laskar Mataram itu terlena. Mereka tidak memikirkan kemungkinan yang paling pahit akan terjadi atas diri mereka. Bahkan Panji Karsula sama sekali tidak mengira bahwa larinya Kraeng Galesong dan prajuritnya itu adalah sebuah siasat, menghindar untuk kemudian memukul balik dengan telak dan menang.

Inilah sebabnya Karaeng Galesong menunggu malam menjadi larut. Bersama dengan rembulan di langit yang memancarkan sinar terang orang-orang Karaeng Galesong itu keluar dari dalam hutan, senjata-senjata mereka terhunus. Dengan mengendap-endap mereka melangkah sabar mendekati Alun-alun dimana para Pajurit Mataram tengah tertidur lelap dengan senjata-senjata yang tergeletak di dekatnya.
“Ststststttt… hati-hati!” bisik Daeng Wigeni kepada Daeng Marewa.
“He.eh. Semua anak buahku juga sudah aku beritahu agar hati-hati dan waspada jangan sampai kedatangan kita didengar oleh orang-orang yang tengah bermimpi itu”. (Akhiyadi)

Read previous post:
Talas Stabilkan Tekanan Darah

ANEKA bahan alami diyakini mampu membantu mendukung atau menjaga kesehatan jiwa raga. Langkah sederhana yang bisa diterapkan antara lain dapat

Close