PERJALANAN PENDEK PERLAWANAN KARAENG GALESONG (9) – Mengatur Strategi Melawan Pasukan Mataram yang Besar

Sorak sorai para prajurit Mataram dengan penuh semangat juang dan keberanian, senjata-senjata mereka terhunus, tombak-tombak mulai merunduk, anak-anak panah terpasang pada gendewanya siap meluncur sewaktu-waktu, dan derap langkah merekapun kian memantapkan tekadnya untuk menumpas Karaeng Galesong berikut bala prajuritnya.

SEMENTARA itu di seputar benteng pertahanannya Karaeng Galesong dan kawan-kawnnya siap menghadang Prajurit-prajurit Mataram dengan senjata terhunus meski dalam hati mereka merasa tidak bakalan kuat menahan laju serangan musuh yang yang tak terbilang banyaknya.
“Kawan-kawan, tahan sebentar serangan prajurit Mataram dalam waktu sekejap saja!”, kata Karaeng Galesong kepada orang-orang kepercaayaannya.

“Maksudmu bagaimana itu?”, tanya Daeng Winggeni dan Daeng Maklucing hampir bersamaan.
“Kita ladeni serangan mereka sebentar. Setelah itu kita lari melingkari benteng kemudian masuk ke hutan sebelah sana. Nah, jika mereka mengejar kita masuk ke hutan maka disitulah kita akan melawan habis-habisan. Aku yakin mereka tidak terampil berperang di tempat yang rimbun dan kita akan diuntungkan karena terbiasa hidup di rimba raya”, jawab Karaeng Galesong.

Daeng Winggeni dan Daeng Maklucing mengangguk-angguk, paham. Mereka berdua segera bergegas meninggalkan Karaeng Galesong kembali bergabung dengan anak buahnya masing-masing.
Bagaikan seekor naga raksasa prajurit-prajurit Mataram datang dengan ancamannya yang luar biasa berusaha memporakporandakan kekuatan Karaeng Galesong. Suara denting senjata beradu mulai terdengar bersautan, saling menyerang dan diserang, menghindar dan menangkis di antara senjata-senjata mereka. Pasukan Karaeng Galesong yang tingkah lakunya kasar itu berteriak-teriak dan menjerit-jerit yang tak mudah dimengerti apa maksudnya, mereka berbicara dengan bahasa Bugis.

“Theng, theng, theng, theng…….??” terdengar suara mengelontheng keras sekali. Karaeng Galesong memukul-mukul bekas selongsong peluru meriam ukuran besar. Ini pertanda bahwa mereka harus segera mundur meninggalkan lawan-lawannya dan berlari masuk ke hutan.
“Pengecut kau! Kawan-kawan, lepaskan anak panah kalian!””, teriak seorang lurah Prajurit Sarageni bernama Ngabei Wangsadipa sambil mengejar musuhnya. Dia menghujani mereka dengan ratusan anak panah yang dilepaskan dari busurnya. Sehingga banyak pasukan Karaeng Galesong yang jatuh jadi korban tertembus punggungnya. (Akhiyadi)

Read previous post:
Kodim Sleman Wisata Sehat di Grojokan Watu Purbo

SLEMAN (MERAPI) - Dandim 0732 / Sleman Letkol Inf Diantoro S IP bersama anggota laksanakan kegiatan olahraga dan wisata di

Close