PERJALANAN PENDEK PERLAWANAN KARAENG GALESONG (5) – Suara Jeritan Gadis Bersautan Terdengar Dimana-mana

Karaeng Galesong dan bala prajuritnya tertawa-tawa kegirangan. Dengan beberapa puluh bedil dan sebuah meriam hasil rampasannya mereka merasa semakin kuat. Sebelum Kompeni menyusul ke Jawa orang-orang Makasar itu terlebih dahulu akan menaklukkan beberapa bupati dan adipati-adipati di daerah pesisir utara Jawa untuk direkrut menjadi bala prajurit mereka.

“INILAH pembalasan kita atas kematian Daeng Manggapa, Daeng Mamu, dan Daeng Massuro yang dibunuh Belanda”, kata Panji Karonuban.
Sambil tersenyum senang dan sebentar-sebentar mengelus kumisnya Karaeng Galesong berkata, “Nanti jika kita sampai di Jawa, yang pertama kali kita tundukkan Bupati Demung dan Bupati Pejarakan!”
“Maksudmu?”.
“Aku sudah mendengar, mereka bukanlah orang-orang yang berilmu tinggi dan sakti. Oleh karenanya kita tundukkan lalu rakyatnya kita jadikan prajurit. Jika mereka bergabung dengan kita maka mengalahkan Belanda bukanlah hal yang sulit”.
“Hmmmm, ya ya ya itu strategi bagus!”.

Angin laut bertiup kencang, suaranya gemuruh, siat-siut terdengar menerpa layar dan tali-talinya. Orang-orang suku Bugis Makasar itu begitu pintarnya memanfaatkan angin laut dengan membentangkan semua layar-layarnya. Sehingga perahu itu melaju kencang didorong hembusan angin membelah gelombang samodra menuju ke daerah pesisir utara Jawa.

Karaeng Galesong mengajak semua pasukannya untuk mendarat di Pelabuhan Demung (sekarang Besuki) untuk menghindari bentrok dengan para prajurit Mataram. Agaknya prajurit sandi (mata-mata) dari kerajaan Mataram telah mengetahui kedatangannya dan kemudian melaporkannya kepada Kanjeng Sultan.
Sementara itu, orang-orang Makasar sudah merapatkan perahu-perahu mereka ke pelabuhan Demung.
“Hai, Kalian mau kemana?”, bentak Daeng Maklucing tatkala melihat kelompoknya Daeng Winggeni beramai-ramai turun dari perahu.
“Hahahaha…. biasa, cari makan!”, jawab Daeng Winggeni tertawa.

Karena perjalanan mereka tidak mempersiapkan bekal makanan yang cukup maka orang-orang pasukan Karaeng Galesong yang kelaparan itu dengan kasar dan nekad mulai merampok warga pesisir. Bahan-bahan makanan diangkut ke perahu, harta benda dijarah rayah. Siapa yang berani melawan di bunuh maka terjadilah geger di Demung dan kota di sebelahnya, Pejarakan. Warga melawan dengan kekuatan yang ada. Sedangkan Karaeng Galesong dan pasukannya semakin nekad, rumah-rumah penduduk dibakar, perempuan-perempuan yang ketahuan membela suaminya ditangkap dan diblejeti. Sehingga suara jeritan bersautan terdengar di segala penjuru lantaran banyak perempuan muda dan gadis-gadis dengan pakaian yang sudah menjadi awut-awutan diseret dibawa ke dalam perahu. Untuk apa wanita-wanita dan gadis-gadis cantik dengan pakaian awut-awutan itu itu diseret dibawa ke dalam perahu oleh orang-orang Karaeng Galesong yang beringas dan kasar? (Akhiyadi)

Read previous post:
MERAPI-ANTARA Petugas memeriksa sapi yang mati mendadak.
Gunungkidul Keluarkan Larangan Konsumsi Daging Hewan Sakit

WONOSARI (MERAPI) - Pemerintah Kabupaten Gunungkidul mengeluarkan surat edaran mengenai larangan mengonsumsi daging hewan sakit, menyusul 12 warga Desa Gombang

Close