KISAH CALON ARANG (7) – Empu Bahula Berhasil Mencuri Kitab Ajaib

Bahula dari desa Girisanyo menghadap Calon Arang, yang menyambutnya dengan nada riang. Sebab ia telah dapat meraba maksud pemuda cakap itu yang ingin memperistri putrinya. “Ya…, kuterima lamaranmu, ayolah…, masuk ke rumahku yang jelek ini!”

DENGAN malu-malu Ratna Manggali keluar, dengan senyum yang menghias bibirnya yang mungil. Wajahnya memang cantik, tak kalah dengan Wedawati.

Sebenarnya Calon Arang melakukan tenung karena perasaan marah saja pada masyarakat Kahuripan. Mereka tak mau mengambil Ratna Manggali sebagai istrinya. Padahal wajahnya selalu ramah, dan masih muda pula.

Begitulah, mulai detik itu Empu Bahula harus hidup bersama-sama dengan Ratna Manggali, hidup sebagai suami istri.

Ratna Manggali senang hatinya, ia sudah lama merindukan seorang suami, yang pandai, cakap, ganteng, dan penurut. Kini idaman itu hampir terlaksana sudah. Suaminya ganteng, cakap, dan pandai.
Namun, tanpa sepengetahuan istrinya, Empu Bahula selalu mengintip bilik mertuanya. Ia ingat pesan gurunya Empu Bharada, agar mencuri kitab pusaka yang sering dibaca Calon Arang.
Dan…, ia pun kini telah tahu, dimana kitab itu disimpan.

Malam yang kelam, bintang bertaburan, Empu Bahula tak dapat tidur, pikirannya kalut. Ia ingin mencuri kitab itu, namun kitab tersebut masih asyik dibaca mertuanya sambil membakar kemenyan.
Yah, tiap malam ia selalu menyaksikan hal yang sama, suara sember dari mulut janda itu, ditambah harumnya bau kemenyan.

Setelah mantera habis dibaca, maka buku itu lantas ia letakkan di tempat yang dipandangnya aman. Ia meletakkan di bawah kandang telur ayam. Orang yang akan mencurinya tak akan menduga kalau buku tersebut disimpan disitu.

Dengkur Calon Arang terdengar, desah nafas Manggali teratur, tapi desah nafas Empu Bahula memburu, tak teratur. Ia berjingkat-jingkat masuk ke bilik mertuanya yang sepi senyap dan menyeramkan.
Dengan hati-hati, ia mengambil kitab itu, dan langsung dipeluknya dan dibawanya kembali. Ia pun tidur di samping Manggali, seakan tak ada kejadian apa-apa.

Keesokan harinya ia pamit akan menjenguk orang tuanya.
“Jangan lama-lama ya nak, kasihan Manggali”
“Ya Bu, nanda cuma sehari saja, besok nanda kemari lagi,” jawab Bahula bohong. Sebab, ia tak akan kembali, kecuali dengan Empu Bharada Gurunya.
“Hem…, inilah buku ajaib, buku yang mempunyai rahasia. Disinilah letak kesaktian Calon Arang. Ia dapat dibunuh hanya dengan Keris Weling putih yang dilumuri darah kerbau,” kata Empu Bharada pada Empu Bahula, setelah ia menerima kitab dan mempelajarinya.
“Menantu edan, menantu sinting! Sudah diberi perawan masih saja nyolong! Awas kalau kesini kucincang tubuhnya!” geram Calon Arang yang mengetahui kalau kitabnya diambil menantunya.
“Kalau kutahu ia akan menjadi pencuri, Huh…, sudah dari dulu-dulu kucincang tubuhnya. Tak akan anak gadisku kuberikan padanya.”
“Ibu…, bunuhlah Manggali bu, tapi jangan bunuh Kakang Bahula. Ia tak bersalah apa-apa Bu,” rintih Ratna Manggali.

Tapi Calon Arang yang sedang marah besar itu tak mau hatinya luluh mendengar permohonan anaknya itu. Ia malahan berlaku bengis pada anaknya.
“Pergi…, susullah suamimu yang kurang ajar itu! Suami datnyeng saja ditangisi, anak sinting kau!”
“Apa tak ada lelaki yang lebih tampan selain anak datnyeng itu? Anak sinting itu?” amarah Calon Arang dihambur-hamburkan sampai habis. Matanya merah menahan marah. Sementara anaknya juga kena marah, didakwa sebagai anak yang goblok tak tahu diri. Murid-muridnya tak luput kena marah pula. (Tri Wahyono)

Read previous post:
Cuaca Ekstrim, Bantul Waspada Longsor dan Banjir

BANTUL (MERAPI) - Sebagaian besar wilayah di Bantul mengalami cuaca cukup ekstrim dalam beberapa hari terakhir. Potensi bencana pun meningkat

Close