KISAH CALON ARANG (5) – Empu Bharada Sedih tak Ada Empu yang Berani

Kuda yang berjumlah empat puluh satu ekor masuk ke Alun-alun Kahuripan. Mereka langsung menghadap Prabu Erlangga dan mengabarkan gagalnya tugas yang telah mereka pikul untuk menghukum Calon Arang.

BAGINDA Erlangga amat muram durja hari itu. Ketika ia melihat para prajurit pilihannya yang terdiri dari para prajurit pengawal raja serta prajurit pelayan dalam tak ada yang mampu mengalahkan Calon Arang. Bahkan, patihnya, Narrottama pun tidak mampu menandingi kesaktian si Janda tua dari Desa Girah, Nyai Calon Arang.

Setelah bersemedi dan memanjatkan doa agar diberi wangsit, maka legalah hati sang Prabu Erlangga. Ia tiba-tiba saja ingat akan Empu Bharada, yang mungkin mampu mengatasi kesulitan yang sedang dialaminya.
“Hai pengawal, coba kau panggil kemari Bapa Bharada, sekarang juga!”
“Baik Sang Prabu, hamba akan menjalankan titah,” jawab pengawal raja. Ia langsung menjalankan tugasnya, memanggil Pendeta Istana Empu Bharada.

Tak lama kemudian, Sang Empu telah menghadap Prabu Erlangga.
“Ampun sang Prabu. Ada titah apakah paduka memanggil hamba yang hina ini menghadap Paduka? Apakah ada kesulitan?” tanya Empu Bharada, setelah ia menghormat Sang Prabu dengan khidmatnya.
“Hem, jangan salah terima Bapa, kami memang sedang berduka. Ketahulah Bapa kalau Janda Girah tak mau memenuhi panggilanku. Malahan Narottama tak mampu mengatasinya. Konon, ia mempunyai ilmu iblis, peninggalan Raja Alengka.”
“Atau Bapa telah tahu, bahwa kemarin banyak prajurit pilihanku yang terluka parah, diamuk anak murid Calon Arang! Begitulah Bapa…, Bapa kupanggil ini akan nanda minta nasehatnya,” kata Prabu Erlangga.

Empu Bharada menengadahkan kepalanya, dengan lirih berkata, “Apakah rekan Empu ada yang lain seperti Empu Tri Guna, Empu Pannukama serta Ahdi Empu Pitaya tidak mampu mengatasi semua ini Sang Prabu?” tanya Empu Bharada.
“Semua Empu sakti, Empu Keraton ini sudah kuberi tahu dan kutawari agar mereka mau maju bersama-sama. Sayang…, mereka tak ada satupun yang berani.”
“Untuk itu, satu-satunya harapan nanda hanya pada Bapa Empu saja. Tolonglah kami, selamatkan rakyat Kahuripan ini dari kesengsaraan!” pinta Erlangga.

“Baiklah nanda Prabu… karena rekan-rekan tak ada yang menyanggupinya, aku yang telah tua ini akan mencoba mengatasinya,” jawab Bharada sambil menekuk kepalanya, ia amat bersedih hati menyaksikan rekan-rekan Empu yang lain yang hanya mau pada kedudukan dan kemewahan saja. Namun kalau ada pekerjaan yang memerlukan keringat, ia yang telah tua renta itu selalu ditunjuk untuk mengatasi pekerjaan tersebut.

“Aku memang sudah tua, sudah wajar kalau aku mati…” gumam Bharada di dalam hati. Kemudian Empu Bharada pun segera mohon diri dari hadapan Prabu Erlangga, yang mengantarnya sampai di pintu luar Istana Kahuripan.

Sesampainya di luar tembok Istana, Empu Bharada segera mengembangkan jubahnya dan ia naik jubah itu… terbang langsung ke rumahnya.

Sementara Sang Bharada terbang, binatang-binatang saling memberi senyuman mesra pada Empu Bharada, dan burung malam pun saling mencicit seolah-olah memberikan ucapan selamat malam kepadanya.
Setelah tiba di rumahnya, Empu Bharada segera turun, dan melipat kembali jubahnya. Jubah tersebut memang sering dipergunakan untuk terbang, dengan mantera-manteranya yang mujarab.

Wedawati telah menantikan kedatangan ayahnya dengan sedikit cemas. Ia amat mengasihi dan menyayangi ayahnya, yang tak tak pernah membentak, apalagi memukul dirinya. Lemah-lembut pribadi Empu Bharada, namun tegas mengambil sikap, dan berlaku keras pada siapa saja yang berlaku kurang ajar dan berlaku jahat. (Tri Wahyono)

Read previous post:
Cegah Cacingan dengan Daun Singkong

TANAMAN singkong termasuk jenis tanaman populer dan bermanfaat. Bagian umbi serta daun tanaman ini dapat dikonsumsi, namun perlu diolah dulu.

Close