KISAH CALON ARANG (3) – Satu Gerakan Semua Senjata Berhasil Dirampas

Janda Girah marah besar, matanya yang besar melotot ketika melihat daerah lingkungannya dirusak oleh para prajurit berkuda. Ia pun memerintahkan murid-muridnya yang berjumlah empat orang untuk menggempur dan mengusir prajurit gila yang merusak wilayahnya.

MAKA keempatpuluh prajurit itu pun menemukan lawannya masing-masing. Mereka bertempur mengemban tugas. Prajurit Kahuripan mengemban kewajibannya sebagai seorang perwira yang patuh dan taat pada pimpinan. Sedangkan lawannya juga patuh dan hormat pada Sang Guru.
Begitulah, mereka bertempur mati-matian, mencari kelengahan lawan, siapa yang lengah pasti akan celaka.

“Aduh… bola mataku keluar, aduh… kakiku patah,” rintih mereka yang terluka, dan rintihan itu terus berkumandang, sahut-sahutan. Disusul rintihan yang lain.

Pertempuran berjalan sengit dan seru. Mereka masing-masing mempunyai ilmu yang tinggi, yang jarang mereka pergunakan kalau tidak sedang terjepit. Sedangkan lawannya, murid Girah ternyata memang sakti pilih tanding.

Setiap murid Calon Arang memerlukan musuh 9-11 orang prajurit Kahuripan. Dentingan senjata yang saling susul menyusul memukau hati Ki Patih yang hanya menonton dari jarak jauh.
Nyatalah kini bahwa Girah tak boleh dianggap ringan. Mereka mampu membuat 40 prajurit pilihan tak berdaya. Setiap serangan dapat ditangkis oleh murid Calon Arang. Para prajurit hampir terdesak, Ki Patih menjadi gundah.

“Hem… benar-benar hebat tandang grayang murid Girah ini” katanya dalam hati.
“Anak buah Ki Wangsa Jaya ternyata tak dapat menandinginya,” lanjutnya lagi.
Murid Girah merapal ajiannya yang membuat kebal dari serangan senjata tajam.
Pedang yang menebas leher suaranya berdenting, bagaikan menimpa batu hitam. Tangan yang terjulur dari murid Girah mampu melukai para prajurit.

Di halaman rumah Calon Arang itu kini terjadi pertempuran seru, antara murid Girah melawan para prajurit Kahuripan. Pertempuran itu terjadi di empat penjuru.
Tiba-tiba, ketika murid Girah terdesak hebat, terdengar suara keras yang melengking tinggi, nada suara orang yang sedang menahan marah.
“Kalian minggir, biar kuhadapi munyuk-munyuk jelek itu,” teriak Calon Arang.
“Telah kuberikan waktu padamu. Huh…, hanya menghadapi munyuk jelek empat biji saja kalian tak becus. Memalukan…!”
“Lihatlah bagaimana aku bekerja,” teriak Calon Arang sambil tangannya bergerak.

Dan hebat… semua senjata para prajurit itu telah terampas dari tangan mereka. Tangan mereka merasakan sakit yang amat sangat.
Melihat hal yang demikian, bergidiklah bulu tengkuk Narottama, ia amat heran melihat kesaktian Calon Arang yang begitu mumpuni, begitu mengagumkan. Apalah jadinya kalau di Desa Girah ini ada sepuluh Calon Arang saja. Tentu, kerajaan Prabu Erlangga akan runtuh. Negara akan rusak binasa, rakyat tentunya menderita. (Tri Wahyono)

Read previous post:
Daun Pepaya Musuh Gangguan Pankreas

BAHAN alami berkhasiat dapat dijadikan suatu olahan atau asupan yang bisa mendukung kesehatan secara alami. Suatu hal menggembirakan pula, jika

Close