GEGER PASAR GODEAN 1948 (9) – Darah Segar Berceceran di Mana-mana

Setelah mendapat kiriman dari udara, pasukan Belanda kembali bersemangat, bangkit dan menyerang lagi dengan tembakan-tembakan senapannya. Disusul suara senapan lain dari arah timur jauh yang diperkirakan merupakan bantuan dari pasukan Belanda lain yang bermarkas di Pingit, Yogyakarta.

MAYOR Samuel segera memerintahkan Lasiman membalas tembakan-tembakan dari timur terebut dengan meriam yang sudah dipersiapkan, berkali-kali meriam tadi berdentum keras melepaskan pelurunya. Meski tembakan meriam ini agak kurang efektif karena gelap malam mulai meremang menjadikan pandangan mata kurang jelas.

Pukul 18.00 pertempuran yang sudah berlangsung seharian itu mereda. Pasukan Belanda mengibarkan bendera putih sebagai isyarat pertempuran dihentikan dan gencatan senjata agar dipatuhi kedua belah pihak. Ini berarti sudah dilarang saling menembak dan pasukan Belanda meninggalkan dusun Geneng bergerak ke arah timur dan berbelok ke utara melewati area persawahan menuju ke Markasnya di Cebongan. Mereka membawa teman-temannya yang sudah menjadi korban kira-kira berjumlah 9 orang. Jenazah mereka hanya dimasukkan ke dalam kantong-kantong goni kemudian diseret begitu saja. Sehingga sawah-sawah berlumpur penuh tanaman padi itu nampak menjadi bosah-baseh tak keruwan lantaran seretan mayat dalam karung tersebut.

Menurut Bidan Trisminah salah satu warga dusun Geneng, bau anyir darah sangat menusuk hidung, darah merah segar berceceran dimana-mana. Bahkan rumahnya yang digunakan menyemayamkan sementara jenazah Belanda korban perang tersebut lantainya terpaksa harus dicuci menggunakan air hangat dicampur perasan jeruk nipis untuk menghilangkan bau anyir dan bercak-bercak merahnya.

Kepada Bidan Trisminah pimpinan pasukan Belanda meminta maaf yang sebesar-besarnya dan mengucapkan terima kasih atas bantuannya mengurusi rekan-rekannya yang menjadi korban.

“Perang memang kejam. Tetapi itulah yang dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan kekuasaan. Maafkan kesalahan kami dan kami juga memaafkan kesalahan kalian”, kata pimpinan pasukan Belanda itu sambil melangkah meninggalkan dusun Geneng.

Bu Bidan Trisminah mengangguk hormat. Ia kagum dengan sikap sportivitasnya yang tinggi, di medan tempur boleh saling membunuh namun dalam kehidupan wajar haruslah kita saling tolong menolong dan bersahabat. (Akhiyadi)

Read previous post:
PT Pengadaian Optimis Naik 20 Persen

SLEMAN (MERAPI) - Kinerja PT Pegadaian (Persero) XI Semarang telah mencapai 104 persen, tercatat hingga hari ini sudah tercapai sekitar

Close