GEGER PASAR GODEAN 1948 (8) – Perang Terbuka dengan Pasukan Belanda Tak Terhindarkan

GEGER PASAR GODEAN 1948 (8) - Perang Terbuka dengan Pasukan Belanda Tak Terhindarkan

Hanya sesekali saja gerilyawan sempat membalas serangan lawan dengan melemparkan granat gombyok meski mereka tahu serangan balasan itu tidak efektif mengingat daya lempar seseorang tak cukup jauh.

AKHIRNYA para gerilyawan tadi bergeser ke arah timur bergabung dengan para personil pasukan KRIS. Ketika pasukan Belanda terus mengejar gerilyawan yang menarik diri itu Mayor Samuel sebagai pimpinan pasukan memerintahkan anak buahnya untuk melawannya.

Di sini perang terbuka pun tidak bisa dihindarkan, hanya dalam jarak 100 – 150 meter antara dusun Geneng dan Sentul mereka berbaku tembak. Posisi pasukan gerilya yang bergabung dengan pasukan KRIS tampaknya lebih baik, serangan-serangan yang dilakukan juga bisa lebih efektif. Di pihak pasukan Belanda 9 orang jatuh menjadi korban dalam pertempuran ini.

Sambil memberikan pertolongan Komandan PMI Saronodipoyo yang sedikit mengerti bahasa Belanda itu menyimak percakapan mereka. Ternyata banyak anggota pasukan Belanda yang sudah patah semangat, frustasi menghadapi musuh yang sedemikian hebat keberaniannya. Mereka sebetulnya ingin menyerah karena kelelahan dan kelaparan. Oh, kasihan. Dengan cara yang licik Bapak Saronodipoyo tersebut akhirnya ditangkap oleh Belanda dan meninggal dalam tawanan. Padahal semestinya anggota Palang Merah itu tidak boleh disamakan dengan gerilyawan maupun militer toh mereka hanya pihak penolong korban, siapapun korban itu?. Sehingga anggota Palang Merah sama sekali tidak bersenjata.

Menjelang senja hari pertempuran semakin seru, jarak tempur juga dekat karena masing-masing pihak merangsek maju. Pasukan Belanda yang sudah kehilangan beberapa orang karena jatuh menjadi korban nampak kehilangan semangat tempur, mereka hampir menyerah. Mendadak terdengar suara pesawat terbang capung milik Belanda meraung-raung di udara di atas dusun Geneng dan Sentul. Pesawat tadi nampak menjatuhkan kotak-kotak berisi bahan makanan dan obat-obatan.

Aneh. Setelah mendapat kiriman dari udara itu pasukan Belanda kembali bersemangat, bangkit dan menyerang lagi dengan tembakan-tembakan senapannya. Apalagi tembakannya itu disusul oleh suara senapan lain yang menembak dari arah timur jauh. Diperkirakan tembakan susulan tersebut merupakan bantuan dari pasukan Belanda lain yang bermarkas di Pingit, Yogyakarta. (Akhiyadi)

Read previous post:
DISINTAS #3: Hukuman Koruptor Masih Lemah

SLEMAN (MERAPI) - Sintessis Coffee & Space kembali menggelar diskusi Disintas (Diskusi Sintesis Bersama TAS) #3 bertajuk catatan hukum akhir

Close