GEGER PASAR GODEAN 1948 (7) – Asap Hitam Mengepul dari Tengah Pasar Godean

Belanda agaknya tidak tahu persis sistem pertahanan yang disusun pejuang Indonesia, karena mereka yang datang merupakan kiriman dari daerah lain dan hanya sebagian saja yang telah lama menghuni Markas Cebongan.

KEADAAN ini dimanfaatkan oleh para pejuang untuk semaksimal mungkin membalas serangan-serangan Belanda yang begitu gencar. Sekali seorang pejuang mendapat posisi tembak yang bagus di sela-sela persembunyiannya maka dilepaskanlah sebutir peluru tepat mengenai sasaran.

Demikianlah para pejuang tadi bertindak sangat efektif mengingat cadangan peluru yang mereka miliki juga tidak cukup banyak. Tetapi semangat juang untuk bela negara yang makantar-kantar itu menjadikan mereka sebagai petempur-petempur yang handal.

Jam 10.00 kontak sejata kedua belah pihak mulai mereda. Dari kejauhan nampak asap hitam mengepul ke udara dari tengah Pasar Godean, entah Belanda membakar apa?. Secara sporadis masih terdengar beberapa kali tembakan meski tidak mengarah ke pertahanan militer pribumi. Ternyata hal ini merupakan siasat Belanda, mereka kemudian menembakkan senjata beratnya ke satu arah yang jauh berkali-kali. Sementara itu pasukannya merangsek maju mendekati pertahanan gerilyawan dan militer Republik.

Kapten Widodo nampak agak gugup menghadapi siasat Belanda ini. Beliau segera memerintah serangan balik untuk menahan langkah maju pasukan musuh. Pertempuran pun kembali berkobar dan dari jarak yang relatif lebih dekat. Para gerilyawan lalu mengambil inisiatif untuk memisahkan diri dari militer. Mereka berjalan melingkar ke timur lalu berbelok ke utara mendekati pertahanan Belanda di Pasar dekat perempatan jalan besar. Gerilyawan-gerilyawan tadi mengendap-endap di antara pohon-pohon asam yang tumbuh menjulang tinggi (sekarang tempat itu telah menjadi sebuah lapangan sepakbola). Sayangnya pasukan gerilya yang memisahkan diri tadi nasibnya kurang beruntung di antara mereka ada yang tertembak. Lebih disayangkan lagi, kawan-kawan mereka tidak bisa mengurus jenazahnya karena situasi yang genting dan terus-menerus musuh menghujani tembakan. Hanya sesekali saja gerilyawan sempat membalas serangan lawan dengan melemparkan granat gombyok meski mereka tahu serangan balasan itu tidak efektif mengingat daya lempar seseorang tak cukup jauh. (Akhiyadi)

Read previous post:
Penumpang Kerempeng tapi Beratnya Minta Ampun

PAK SUKRO bekerja sebagai sebagai Opang (Ojek Pangkalan), dimana setiap sore hingga malam mangkal di perempatan dekat pemberhentian bus, yang

Close