GEGER PASAR GODEAN 1948 (6) – Semua Sektor Pertahanan Siap Menghadapi Belanda

Tiba-tiba dari balik gerumbul muncul seseorang yang sengaja mendekati Mayor Samuel dan Lasiman. Wajah orang itu nampak kusut, keringat mengalir turun di sisi wajahnya kiri dan kanan.

LASIMAN tersenyum memandanginya. Dia adalah Paijo seorang penghubung dari kelompok utara dan merupakan warga dusun Senoboyo.
”Aku mau melapor, Mayor Samuel”, kata Paijo.
“Silakan!”.

“Kelompok utara sudah siap. Mereka menyusun basis pertahanan di dusun Kramen”.
“O, begitu? Siapa mereka itu?”
“Pasukan Gatotkaca pimpinan Pak Subagyo bergabung dengan Tentara Pelajar, dan rakyat. Kami siap menghadang patroli pasukan Belanda jika mereka dari arah Cebongan ke Godean melewati jalur jalan sebelah barat”
“Oke. Laporan aku terima, terima kasih. Apakah ada orang lain yang menghubungi Kapten Widodo dan menyampaikan hal ini?”
“Ada. Marjuki sudah menghubunginya”.

Mayor Samual dan Lasiman mengangguk-anggukan kepalanya, berarti kini semua sektor pertahanan sudah siap menghadapi Belanda.

Sebentar kemudian dari kejauhan terdengar suara montor mabur Belanda terbang dari utara ke selatan disambut oleh bunyi sirine yang meraung-raung keras. Serentetan tembakan senapan otomatispun segera terdengar.
“Siagaaaaa….!” Kapten Widodo meneriakkan aba-aba.

Pasukan yang tergabung dalam Batalyon 151 pun mulai bergerak maju perlahan-lahan diikuti para pejuang pribumi yang bersenjatakan apa adanya. Mereka bergerak sambil mengendap endap berlindung di satu tempat ke tempat lain yang sekiranya aman, amping-amping pepohonan atau reruntuhan bangunan dan sebagainya. Karena Belanda begitu gencarnya menghujani dengan ribuan peluru yang muntah dari moncong senjata-senjata mereka.

“Agaknya mereka tidak tahu persis sistem pertahanan kita, Pak”, kata salah seorang anggota Batalyon 151 kepada Pak Widodo.
“Kemungkinan, iya. Sebab aku dengar Belanda-belanda yang datang ini kiriman dari daerah lain dan hanya sebagian saja yang telah lama menghuni Markas Cebongan”. (Akhiyadi)

Read previous post:
Peyek Jingking Bikin Pusing

HARI itu Kamis Wage. Sorenya malam Jumat Kliwon. Imah dan Tumijan, dua insan sedang dilanda asmara, mengunjungi pantai laut selatan.

Close