GEGER PASAR GODEAN 1948 (5) – Gerilyawan Hanya Bersenjatakan Bedil Tua

Hari itu tentara Belanda mengadakan patroli dari markas di Cebongan melalui desa-desa Cibuk, Barak, Klaci, Kramen. Selanjutnya mereka menuju ke arah selatan dan akhirnya ke Pasar Godean. Kurang lebih pukul 09.00 Belanda mengadakan pendobrakan rumah-rumah penduduk yang pintunya tertutup untuk mencari para gerilyawan.

MELIHAT situasi yang makin gawat dan menilik tentara Belanda dari Markas Cebongan semakin banyak yang berdatangan ke wilayah Godean, maka Kapten Widodo pimpinan Batalyon 151 segera memerintahkan anak buahnya bergabung dengan para gerilyawan. Mereka mengambil posisi sergap di sebelah selatan Pasar Godean dusun Jetis kalurahan Sidoagung. Di situ ada sungai yang membujur ke arah timur dan tebingnya yang agak lumayan tinggi merupakan lokasi pertahanan yang strategis berjarak kira-kira 250 meter dengan pasukan tentara Belanda yang menduduki pasar. Meski dengan personil yang tidak begitu banyak, sekitar 60 tentara.

Namun persenjataan Belanda lengkap dan modern. Beberapa senapan mitraliur yang dapat memberondongkan ratusan peluru sekaligus mereka miliki, granat, dan juga meriam. Sedangkan pasukan gerilya bersenjatakan apa adanya, bedil-bedil tua yang terkadang macet, bambu runcing, granat gombyok yang dibuat oleh Seno salah satu warga dusun Bendungan kalurahan Sidoagung, dan senjata tradisional lain seperti pedang, cundrik, clurit, serta tombak. Sedangkan senjata-senjata berat yang dimiliki pasukan Republik ditempatkan di dusun Sentul sebelah timur pasar untuk menghadang manakala pasukan Belanda mendapat bantuan dari rekan-rekan mereka yang berada di kota Yogyakarta, arah timur dari Godean sekitar 8 Km.

“Meriam itu kamu tempatkan saja di tepi sungai di bawah rumpun bambu”, kata Mayor Samuel pimpinan pasukan KRIS kepada Lasiman seorang warga dusun setempat yang aktif bergabung dengan pasukan yang kebanyakan anggotanya orang-orang Sulawesi itu.

“Ya. Di atas gundukan tanah tepi sungai itu meriam kita akan memiliki posisi tembak yang bagus ke arah jalan besar di sebelah selatan”, jawab Lasiman. Di pinggiran dusun Sentul juga ada sebuah sungai kecil yang mengalir ke arah selatan. Sepanjang aliran sungai tadi banyak tumbuh pepohonan aneka macam dan juga gerumbul-gerumbul perdu yang rimbun.

Tiba-tiba dari balik gerumbul muncul seseorang yang sengaja mendekati Mayor Samuel dan Lasiman. Wajah orang itu nampak kusut, keringat mengalir turun di sisi wajahnya kiri dan kanan. (Akhiyadi)

Read previous post:
211 Siswa Berprestasi di Sleman Terima Beasiswa

SLEMAN (MERAPI) - Sebanyak 211 siswa berprestasi tingkat SD dan SMP menerima beasiswa dari Pemerintah Kabupaten Sleman. Beasiswa tersebut diserahkan

Close