GEGER PASAR GODEAN 1948 (3) – Dengkul Sugimo Remuk Terkena Pecahan Mortir

Hari itu Pak lurah bersama seluruh perangkat desa Kalurahan Sidoagung Godean mengajak semua warga bekerja membuat lubang-lubang di jalanan dan menebang pohon-pohon besar untuk menghambat gerak laju pasukan Belanda.

GEGER Pasar Godean tersebut memantik berkobarnya semangat juang rakyat di sekitarnya. Santer terdengar isu tentang agresi militer Belanda kedua akan meluas sampai ke wilayah Godean. Benar atau tidak isu tersebut namun aparat pemerintah siap mengantisipasinya dengan berbagai cara. Semangat rakyat untuk bertempur melawan Belanda juga kian menyala. Mereka saling bekerja sama membentuk kelompok-kelompok kerja yang saling menunjang. Para pemuda segera bergabung dengan pasukan-pasukan militer yang kemudian berdatangan. Mereka adalah pasukan Gatotkaca dari kepolisian pimpinan Subagyo yang bermarkas di dusun Senoboyo sebelah utara pasar. Lalu pasukan KRIS (Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi) pimpinan Mayor Samuel bermarkas di dusun Sentul sebelah timur pasar. Sedangkan pasukan lain yang berpatroli adalah Mobile Brigade, CPM, dan Tentara Pelajar.

**

Sore hari, sekitar pukul 15.00. Untuk keduakalinya pasar Godean kembali dihujani mortir oleh Belanda dari markasnya di Cebongan.
“Geger landa, geger landa! Semingkir!” Sugimo berteriak-teriak memberi peringatan agar orang-orang yang masih berada di pasar segera menyingkir atau mencari perlindungan.

“Siiuuutttt…. glegerrrr, siuuuuttt… glegerrr” suara ledakan mortir itu masih terdengar bersautan dan mengguncang-guncang tanah seputar pasar.
Sugimo yang tadi berteriak-teriak memberi peringatan kini berteriak lebih keras lagi tapi bukan untuk memberi peringatan melainkan dia kesakitan, dengkulnya remuk dan kakinya patah terkena pecahan mortir yang jatuh meledak di dekatnya.
“Tulung, tuluung, tuluuuung….!”

Mendengar ada orang minta tolong Somo Senter pemilik warung makan di sebelahnya bergegas lari mendekati korban. Malang baginya, karena mortir Belanda kembali jatuh meledak tak jauh darinya. Somo Senter ambruk bersimbah darah, punggungnya terluka kena pecahan mortir, dia meninggal seketika.

Menjelang senja serangan mortir itu berhenti. Keadaan pasar nampak porak poranda, bangunan los-los yang biasa dipakai untuk berjualan ambruk, pohon-pohon Waru bertumbangan. Bahkan sebuah pohon kelapa di sebelah utara pasar milik Sastro Jazuli batangnya langsung patah tertabrak mortir yang terbang melaju dari arah utara. (Akhiyadi)

Read previous post:
KOMISI II DPR RI KUNJUNGI SLEMAN: Pantau Kesiapan Pilkada 2020

SLEMAN (MERAPI) - Komisi II DPR RI mengunjungi Pemerintah Kabupaten Sleman. Rombongan dipimpin Ahmad Doli Kurnia Tandjung diterima Wakil Bupati

Close