GEGER PASAR GODEAN 1948 (2) – 6 Orang Jadi Korban Serangan Mortir Belanda

Peluru mortir sebesar buah kates jatuh meledak di tengah pasar. Berkali-kali Belanda menembakkannya dari Markasnya di Cebongan yang berjarak sekitar lima kilometer arah utara.

JERIT pilu, sumpah serapah, makian-makian kepada Belanda yang kurang ajar itu mewarnai hiruk pikuk di pasar Godean. Korban yang meninggal terkena pecahan peluru mortir tadi sebanyak 6 orang.

Pak Saronodipoyo berikut beberapa anak buahnya dari PMI buru-buru mengevakuasi korban baik yang meninggal maupun yang terluka. Mereka harus sangat hati-hati dan waspada sebab setiap saat dari kejauhan mortir terbang mendekat lalu jatuh meledak. Serpihannya yang muncrat bertebaran kesana kemari itu jika mengenai tubuh manusia sangat mematikan.

“Man, angkut korban luka ini ke Moyudan!”, katanya kepada Narman.
“Siap, Pak. Seperti biasanya pengangkutan korban ini secara estafet?”.
Lelaki separo baya yang memimpin PMI wilayah Godean itu mengangguk. Dia maklum, rumah sakit yang peralatannya cukup memadahi ada di Boro, Kulon Progo. Karena jarak yang jauh itulah maka demi keamanan korban diangkut estafet dari daerah satu dioper ke daerah berikutnya yang sejalur sampai akhirnya tiba di rumah sakit.

Tragedi pasar Godean yang terjadi siang hari pukul 11.00 itu benar-benar mengusik keresahan rakyat. Apalagi kemudian tersiar kabar dari kota Yogyakarta bahwa tentara Belanda juga telah menyerang lapangan terbang Maguwo.
“Kepada pemerintah Republik Indonesia Belanda menyatakan tidak lagi terikat kepada perjanjian Renville”, kata Asidi seorang warga kampung Geneng yang baru saja menerima kabar tersebut kepada temannya.

“Ini jelas-jelas Belanda mau memulai serangan”, jawab Kismo.
“Makanya tadi Pak lurah buru-buru mengontak Kapten Widodo pimpinan pasukan Batalyon 151 untuk mempersiapkan diri menjaga kondisi keamanan di sini”.

Hari itu juga Pak lurah bersama seluruh perangkat desa Kalurahan Sidoagung Godean mengajak semua warga bekerja bahu membahu membuat lubang-lubang di jalanan dan juga menebang pohon-pohon besar untuk dirobohkan melintang di jalan.
Hal ini dimaksudkan untuk menghambat gerak laju pasukan Belanda sehingga para gerilyawan berkesempatan untuk memberikan perlawanan kepada pasukan Belanda yang terhambat. Kecuali itu bangunan-bangunan yang sekiranya masih bisa ditempati oleh Belanda baik untuk markas maupun untuk gudang penumpuk logistik dan amunisi sengaja dirusak beramai-ramai. (Akhiyadi)

Read previous post:
ilustrasi
Wanita Penggendam

KEJAHATAN pencurian tak selalu disertai kekerasan. Ada cara lain pelaku kejahatan untuk menggasak harta korban, antara lain dengan tipu muslihat

Close