GEGER PASAR GODEAN 1948 (1) – Montor Mabur Menunjukkan Arah Serangan

Awal bulan Desember 1948 kondisi perpolitikan di wilayah kota Yogyakarta dan sekitarnya pada umumnya mulai keruh, beragam intimidasi saling dilontarkan baik oleh penjajah Belanda maupun militer pribumi.

KERUHNYA situasi dikarenakan berbagai perjanjian-perjanjian yang semula saling disepakati, kini mulai dilanggar. Terdorong oleh nafsu ingin berkuasa dan menguasai negeri yang mempunyai kekayaan alam melimpah ini, Belanda kerapkali bersikap dan bertindak arogan.

Pasar Godean sebagai pusat perekonomian rakyat perannya menjadi sangat vital di tengah kondisi kehidupan yang serba sulit waktu itu. Inilah sebabnya pasar Godean selalu banyak dikunjungi warga masyarakat untuk mendapatkan kebutuhan-kebutuhan hidup terutama pangan dan sandang. Belanda tentu mengerti, pasar Godean sangat potensial bagi warga pribumi makanya tempat tersebut sangat diperhitungkannya terutama dalam hal upaya melemahkan perlawanan rakyat yang kian lekat dengan para gerilyawan. Mereka bersatu padu dengan kelompok-kelompok militer yang mulai berdatangan dan bermarkas di beberapa dusun sekitar Pasar Godean.

“Wouw, itu montor mabur ureng-ureng!” teriak Dulkamid. Bakul pitik ini lalu mendongak dan mengacungkan telunjuknya ke atas.

“Mana Ureng-urengya?” bertanya Pak Kopral Tejo yang kebetulan sedang mencari ayam Jago yang akan disembelih untuk uba rampe kenduri di rumahnya malam harinya.

“Tuh, Pak Kopral. Montor mabur Ureng-urengnya terbang berkitaran!” ujar Dulkamid.

“Itu bukan montor mabur Ureng-ureng, itu montor mabur Belanda,” jawab Pak Kopral. Sebagai seorang militer naluri Pak Kopral segera curiga, jangan-jangan montor mabur Belanda tadi akan menyerang dengan menjatuhkan bom?.

“Hai, saudara-saudaraku yang ada di pasar ini segeralah kalian mencari perlindungan seadanya. Siapa tahu montor mabur Belanda yang terbang berkitar-kitar di langit sana akan menjatuhkan bom?” pintanya mengingatkan agar semua orang di dalam pasar itu berhati-hati.

Tidak seberapa lama kemudian terdengar suara mortir terbang dari arah utara, “Siiuuuutt… glegeerrrrr!” peluru mortir sebesar buah kates jatuh meledak di tengah pasar. Berkali-kali Belanda menembakkannya dari Markasnya di Cebongan yang berjarak sekitar lima kilometer arah utara. Kiranya montor mabur yang terbang berkitar-kitar tersebut cuma menunjukkan arah lokasi yang harus diserang. (Akhiyadi)

Read previous post:
Ada Suara Nggroook-nggroook di Pojok Kamar

KEPONAKAN saya Dina dari Sumatra diterima kuliah di UGM. Luar biasa senangnya, karena bisa kuliah di Yogyakarta. Orang tuanya mengantar

Close