PENGEMBARAAN SYEH JUMADIGENO DAN WASIBAGENO (5) – Syeh Jumadigeno Membuka Wonolelo

Syeh Jumadigeno kemudian berkonsentrasi untuk menerapkan semua ilmu yang diserapnya dari Ki Ageng Turgo maupun dari yang lainnya. Dengan memutar-mutarkan bandilnya, bersamaan dengan itu bertumbanganlah segala pohon-pohon besar-kecil di Hutan Malelo.

DEMIKIAN pun semak dan perdu. Semuanya tercerabut dan mengumpul pada suatu tempat. Namun anehnya ada satu pohon yang tidak tumbang oleh peristiwa itu. Pohon yang tidak tumbang itu dikenal dengan nama pohon Kwadung. Pohon Kwadung yang tidak tumbang itu pada saat itu tengah berbunga sangat indah. Berdasarkan hal itu, maka tempat tumbuhnya pohon Kwadung tersebut dinamakan Dusun Kwadungan.
Oleh karena ilmu dan bandilnya itulah kemudian Hutan Malelo menjadi wilayah yang terbuka. Syeh Jumadigeno yang memulai pertama kali bermukim di hutan yang dibukanya itu kemudian menginspirasi banyak orang untuk ikut bermukim di tempat itu.

Selain ikut bermukim mereka juga menjadi murid-murid dari Syeh Jumadigeno yang kemudian mendapat julukan Ki Ageng Wonolelo karena ia adalah orang yang menjadi sesepuh dan pendiri wilayah itu. Ki Ageng Wonolelo juga membuat rumah untuk pemukimannya sendiri. Rumah tersebut berbentuk limasan dengan enam buah saka atau tiang utama. Diceritakan bahwa rumah limasan tersebut dapat diselesaikannya dalam waktu yang sangat singkat.

Oleh karena itu pula rumah limasan tersebut sering disebut sebagai rumah tiban atau rumah yang tiba-tiba ada. Selain rumah untuk bermukim, Ki Ageng Wonolelo juga membuat surau sebagai tempat untuk beribadah bersama pengikutnya.
Dalam perjalanan waktu semakin banyak orang lah yang ikut bermukim di bekas Hutan Malelo sekaligus semakin banyak pula santri yang menjadi murid Ki Ageng Wonolelo. Melihat murid yang semakin banyak maka dibuatlah pondok sebagai tempat penampungannya. Berdasarkan hal itu, maka tempat yang pada mulanya berupa hutan yang kelihatan malelo atau jelas, terang, dan terbuka tersebut dinamakan Dusun Pondok Wonolelo. Tidak aneh jika Syeh Jumadigeno kemudian juga dikenal dengan nama Ki Ageng Wonolelo.

Rumah tiban yang dibangun oleh Ki Ageng Wonolelo ini sampai sekarang masing dilestarikan. Demikian pun surau atau masjid Ki Ageng Wonolelo. Tidak ada orang yang berani menempati rumah tiban yang dibangun oleh Ki Ageng Wonolelo ini. (Albes Sartono)

Read previous post:
Jangan Selonjorkan Kaki ke Pojokan Lincak

PRIHATIN sore itu diminta datang ke rumah neneknya di desa Ngringin. Nenek kangen padanya, karena sudah 2 bulan tak terlihat.

Close