PENGEMBARAAN SYEH JUMADIGENO DAN WASIBAGENO (4) – Lapar, Ngemplak-ngemplok Buah Asam

Kedua pengikut Syeh Jumadigeno yang tengah merasa lapar serta merta memetik buah-buah asam yang masak dan memakannya untuk menangkal rasa laparnya. Dorongan rasa lapar membuat mereka tampak lahap menyantap buah-buah asam tersebut.

APA yang mereka lakukan ini oleh orang Jawa disebut dengan istilah ngemplak-ngemplok atau berulang kali memasukkan makanan ke dalam mulut mereka. Berdasarkan kejadian itu maka Syeh Jumadigeno menamakan tempat tersebut Ngemplak. Ngemplak pada saat sekarang ini menjadi nama salah satu kecamatan di wilayah Kabupaten Sleman.

Dalam melanjutkan perjalanan menuju itu pula Syeh Jumadigeno mendapatkan teman baru yang bernama Kyai Ganjur. Di tengah perjalanan itu pula Kyai Ganjur merasakan kehausan. Demikian pun kedua pengikut Syeh Jumadigeno. Oleh karena itulah Syeh Jumadigeno mengambil sebatang lidi dari pohon pucang (pohon jambe/pinang).

Lidi pucang itu dilemparkannya menuju ke arah selatan. Lidi tersebut masuk ke sebuah jurang. Ketika mereka menuruni jurang tersebut mereka mendapatkan mata air yang jernih yang memancar dari bekas tancapan lidi pucang yang dilemparkan oleh Syeh Jumadigeno. Akhirnya mereka semua meminum air dari sumber tersebut.
Setelah itu Syeh Jumadigeno bertanya kepada Kyai Ganjur mengenai langkah apa yang mesti mereka lakukan. Kyai Ganjur menyarankan agar rencana membuka Hutan Malelo segera dilakukan. Untuk itulah kemudian Syeh Jumadigeno memerintahkan Surenggodo dan Surenggono menyiapkan alat-alat dengan membuatnya sendiri seperti wadung (beliung) dan kapak.

Selain itu Syeh Jumadigeno meminta kepada Kyai Ganjur agar membunyikan sesuatu di Gumuk Lengki, salah satu bukit di Hutan Malelo. Bunyi tersebut sebagai pertanda bahwa pembabatan hutan akan segera dimulai. Usai itu Syeh Jumadigeno kemudian bersemadi di Gumuk Lengki untuk mohon petunjuk kepada Tuhan. Syeh Jumadigeno lalu mendapatkan wangsit bahwa untuk membuka hutan diperintah menggunakan pusakanya yang berwujud bandil.

Setelah mendapatkan wangsit itu Syeh Jumadigeno kemudian lebih berkonsentrasi untuk membaca dan menerapkan semua ilmu yang terlah diserapnya selama ini baik dari Ki Ageng Turgo maupun dari yang lainnya. Bersamaan dengan itu pula ia mulai memutar-mutarkan bandilnya. Aneh bin ajaib. Bersamaan dengan itu bertumbanganlah segala pohon-pohon besar-kecil di Hutan Malelo. (Albes Sartono)

Read previous post:
ilustrasi
Perbaiki Layanan BPJS

SEIRING naiknya iuran BPJS Kesehatan, pelayanan terhadap peserta akan ditingkatkan. Itulah komitmen atau janji yang disampaikan Dirut BPJS Kesehatan Fachmi

Close