PENGEMBARAAN SYEH JUMADIGENO DAN WASIBAGENO (3) – Mendarat di Bawah Pohon Jati Muda

Perjalanan Syeh Wasibageno ke Hutan Dwarawati dilakukan dengan duduk bersila menaiki gribig dan menerapkan Ajian Septi Angin. Lalu melesat menuju arah Hutan Dwarawati. Begitu berhenti dan mendarat tepat berada di bawah pohon jati yang masih muda.

BERDASAR peristiwa itu, maka tempat mendaratnya Syeh Wasibageno di Hutan Dwarawati ini kemudian dinamakan Jati Enom atau Jatinom. Jatinom yang sering dilafalkan Tinom saja merupakan satu wilayah di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Oleh karena Syeh Wasibageno ini terkenal sering menggunakan Gribig-nya untuk menyelesaikan segala tugas-tugasnya, maka ia kemudian diberi julukan Ki Ageng Gribig.

Sementara itu Syeh Jumadigeno bersama kedua pengikutnya terus melanjutkan perjalanannya menuju ke arah selatan hingga pada suatu bukit yang di bawahnya terdapat suatu tegalan.

Berdasarkan hal demikian itu, maka tempat tersebut kemudian dinamakan Tegalsari. Istilah tegal sudah menunjukkan maknanya. Sedangkan istilah sari menunjukkan inti atau hakikat. Jadi, Tegalsari adalah hakikatnya tegalan atau lading.

Perjalanan selanjutnya semakin mengarah ke arah selatan-timur. Dalam perjalanan itu Syeh Jumadigeno sampai pada suatu tempat dan seketika itu ia berkata nyaring,”Tempat ini akan kunamakan Pakem.” Kedua pengikutnya pun bertanya mengapa tempa itu dinamakan Pakem.

Syeh Jumadigeno menjawab bahwa tempat itu dinamakannya Pakem dengan suatu maksud bahwa agar orang kelak ingat akan makna Pakem yakni suatu perjalanan dan lakon yang selalu tidak lepas dari pokok-pokok aturan hidup yang telah digariskan oleh ajaran-ajaran suci pemberian dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Mendengar hal itu kedua pengikut Syeh Jumadigeno terkejut dan sekaligus terpental serta kemudian terjatuh di Hutan Malelo. Begitu sadar dari jatuhnya mereka pun melihat ke atas. Begitu melihat ke atas mereka melihat ada pohon asam yang besar dan sangat rimbun yang menaungi tubuh mereka. Kebetulan pula pohon asam tersebut sedang berbuah sangat lebat.

Kedua pengikut Syeh Jumadigeno yang sesungguhnya tengah dilandar lapar itu dengan serta merta memetiki buah-buah asam yang masak dan memulai memakannya untuk menangkal rasa lapar mereka. Dorongan rasa lapar membuat mereka tampak lahap menyantap buah-buah asam tersebut. (Albes Sartono)

Read previous post:
PILKADA 2020 DI SLEMAN: Baliho Balon Mulai Bermunculan

SLEMAN (MERAPI) - Menjelang pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) tahun 2020 di Sleman, mulai bermunculan baliho yang dipasang bakal calon

Close