PENGEMBARAAN SYEH JUMADIGENO DAN WASIBAGENO (2) – Asal-usul Nama Desa Ngangkruk

Syeh Jumadigeno diminta Syeh Jimat melanjutkan perjalanan ke selatan dan Syeh Wasibageno menuju Hutan Dwarawati yang terletak di sisi timur. Perjalanannya diikuti Surenggodo dan Surenggono. Sampai di sebuah tempat tinggi mereka makan buah-buahan.

KETIKA Syeh Jumadigeno dan Syeh Wasibageno berada di tempat tinggi dan kedua pengikutnya berada di bawahnya. Ketika melihat Syeh Jumadigeno dan Syeh Wasibageno berada di ketinggian keduanya kemudian berkata,” Ki Ageng, Ki Ageng, ngangkruk-angkruk.” Istilah ini dalam bahasa Jawa diartikan di ketinggian dan terkesan seperti mau jatuh. Berdasarkan peristiwa itu maka tempat tersebut kemudian dinamakan Dusun Ngangkruk.

Dari tempat tinggi pula Syeh Jumadigeno dan Syeh Wasibageno mengarahkan pandangannya ke arah selatan. Ketiuka melihat ke arah selatan itulah mereka melihat hamparan hutan yang malela ‘kelihatan sangat jelas’. Oleh karena itu hutan yang kelihatan demikian itu mereka namakan Wonolelo.

Sebelum melanjutkan perjalanan pengembaraannya Syeh Jumadigeno dan Syeh Wasibageno membuka bungkusan yang diberikan oleh Syeh Jimat.

Ternyata bungkusan yang diterima Syeh Jumadigeno berisi Kitab Suci Al Quran, Kopiah, Baju Gondil (Kutang Antrakusuma), Tongkat (teken), dan Bandil (semacam ketapel). Sedangkan bungkusan yang diterima Syeh Wasibageno berisi antara lain Kitab Suci Al Quran, Gribig (tikar untuk alas sholat), Jungkat Penatas, dan Ajian Septi Angin.

Setelah keduanya membuka isi bungkusan madding-masing dan mengetahui segala isinya keduanya kemudian berpisah untuk melanjutkan perjalanan dan tugasnya masing-masing. Syhe Jumadigeno melanjutkan perjalanan ke arah selatan bersama Surenggodo dan Surenggono. Sedangkan Syeh Wasibageno melanjutkan perjalanannya ke timur ke Hutan Dwarawati.

Perjalanan Syeh Wasibageno ke Hutan Dwarawati dilakukan dengan duduk bersila menaiki Gribig dan menerapkan Ajian Septi Angin. Gribig pun melesat di angkasa menuju arah Hutan Dwarawati. Begitu sampai di Hutan Dwarawati, maka Gribig yang ditumpanginya berhenti dan mendarat tepat di bawah pohon jati yang masih muda. (Albes Sartono)

Read previous post:
PENGEMBARAAN SYEH JUMADIGENO DAN WASIBAGENO (1) – Duel dengan Dua Penyabung Ayam

Sebelum keduanya mengembara, mereka diminta singgah lebih dulu Dusun Wonogiri, tempat dimana Syeh Jimat, paman mereka tinggal. Sementara Syeh Jumadil

Close