DI BALIK JALAN TEMBUS PERBATASAN GUNUNGKIDUL-KLATEN (4-HABIS) – Batu Raksasa itu Melompati Pagar Pengaman

BEGITU banyaknya batu-batu raksasa yang harus dipecahkan menggunakan dinamti, untuk membuka jalan tembus Gunungkidul-Klaten. Karena itu, bekas batu-batu yang tersisa dari peledakan itu ada beberapa yang masih nongkrong di atas bukit. Sudah tentu hal ini cukup berbahaya.

Risiko besar jika terjadi longsor dan batu tersebut menggelinding ke bawah. Hal ini menyisakan perhatian dan kekhawatiran warga sekitar bukit. Termasuk sebuah batu yang bertengger di atas rumah Lik Gimbal, yang melibas rumahnya hingga rata.

Kejadian tersebut cukup mengusik kenyamanan yang sudah ada selama ini. Masih ada beberapa batu yang diperkirakan juga tiba-tiba bisa meluncur. Beberapa waktu ini yang terus dipikirkan, sampai memberikan pekerjaan bagi para tukang batu untuk memindahkan. Mereka butuh alat dan bila manual jelas butuh waktu lama.

Batu sebesar gajah masih bertengger di atas bukit. Bila menggelundung tentu akan mengenai bangunan rumah warga. Sehingga perlu untuk dipindahkan. Seorang tukang pencari batu ada yang nawar dengan biaya Rp 5 juta untuk mengatasinya.

Benda itu berada di dekat tugu tapal batas wilayah. Tugu itu sebagai tetenger batas wilayah Yogyakarta dan Solo. Tertulis tahun 1867 sebagai bukti paska perjanjian Giyanti yang mengatur wilayah kekuasaan.

Pagi itu, warga dihebohkan adanya gelundungan batu yang tahu-tahu telah berada di bawah bukit. Adanya gelundungan batu segajah itu oleh warga membuat heboh. Mereka telah bersiap mengadakan antisipasi, sebagai upaya mengatasi dari bencana tertimpa batu segajah. Jika longsong diharapkan batunitu dapat tertahan oleh benteng pengaman.

MERAPI-WA SUTANTO  Tugu tapal batas wilayah.
MERAPI-WA SUTANTO
Tugu tapal batas wilayah.

Bongkahan batu yang dikhawatirkan menimpa rumah penduduk, tak disangka-sangka benar-benar ambrol. Hanya saja terjadi kejadian aneh dan luar biasa. Batu itu seperti ada yang menjalankan. Karena benda besar dan berat itu ternyata dapat melompati pengaman yang dibuat warga dan berhenti persisi di depan musala.

Masyarakat pun heboh. Batu besar telah dan melompat dari pagar betis. Kemudian mendarat di area kosong di depan tempat ibadah. Dan batu itu kemudian bersandar di pohon jati. “Sebuah berkah yang tak terkira,” kata Pak Dukuh Bakti yang menjadi Kepala Dusun Jentir. (WA Sutanto)

Read previous post:
Penunggu Kebon Suwung Suka Marah-marah

KEBON suwung punya Pak Dibyo yang selama ini ditanami buah-buahan sekarang jadi tidak berarturan, karena para penduduk membuang sampah di

Close