DI BALIK JALAN TEMBUS PERBATASAN GUNUNGKIDUL-KLATEN (3) – Lurah Selalu Berasal dari Ndhuwur Gunung

AREA tanjakan jalan tembus perbatasan Gunungkidul dengan Klaten, menyimpan banyak kisah yang cukup melegenda. Orang menyebut adanya kawasan atas dan bawah gunung atau ndhuwur gunung dan ngisor gunung. Sebutan ini sampai sekarang masih bergaung di tengah msyarakjat.

Momentum pemilihan perangkat desa, khususnya lurah, selama ini selalu menjadi sesuatu yang wah. Pasalnya, jabatan ini sangat terhormat yang disandang seseorang untuk kemudian dituakan dan menjadi pucuk pimpinan desa.

Tak pelak, pilihan lurah pun jadi agenda yang ramai dibicarakan. Bagi masyarakat Sambeng, ada kisah tersendiri yang menjadi perhatian semenjak awal mula pilihan. Itulah yang menjadi perlambang untuk dibaca.

Bagi mereka utamanya generasi tahun 1950-an yang masih sugeng, pada umumnya memberikan komentar yang unik dan layak jadi perhatian.

Tahun 2019 ini juga gencarnya diadakan pendaftaran calon lurah. Beberapa calon tampak bermunculan dari berbagai dusun. Baik yang berada di atas maupun bawah gunung untuk beradu nasib keberuntungan. Hanya saja, generasi muda rupanya tidak begitu terkungkung oleh legenda ini.

Dalam sejarah belum pernah ada lurah yang berasal dari sor gunung. Toh begitu antusias semua warga yang tersebar di Sambirejo begitu kentara. Sabar selaku warga uga bersemangat untuk meramaikan perhelatan ini. Biarpun ia sendiri berasal dari wilayah ngisor gunung, tetap optimis.

Mbah Toyo seorang warga yang berusia 70-an tahun, punya komentar. Ia melanjutkan penuturan sebagaimana simbahnya dulu. “Bahwa warga yang berada di atas gunung yang akan kuat menerima pulung lungguh lurah.” Ia membaca sebagaimana kakeknya dulu setiap pergantian lurah desa ini.

MERAPI-WA SUTANTO  Pintu Gerbang jalan tanjakan.
MERAPI-WA SUTANTO
Pintu Gerbang jalan tanjakan.

“Sementara untuk daerah timur itu adalah lahan untuk lungguh lurah. Uniknya bila yang nggarap itu ditangani oleh lurahnya sendiri, pasti ada keganjilan. Karena jika tanpa digarapkan orang lain tanaman akan jadi engkrak-engkrik atau rentan kena hama,” papar Mbah Toyo.

Sedemikian anehnya sebuah kejadian yang terekam oleh warga yang begitu apresiatif pada desanya. Termasuk dari kacamata dan pengamatan selama beberapa dasa warsa, yang menjadi barometer. Termasuk sejak dipimpin lurah selama ini. Yang jelas, menurut Mbah Toyo dari eyangnya dulu demikian itu. WA Sutanto)

Read previous post:
Hirup Gas Beracun, 2 Santri Tewas di Dasar Sumur

MAGELANG (MERAPI)- Dua orang santri Pondok Pesantren Nurul Ali, Sempu, Ngadirojo, Secang, Kabupaten Magelang, tewas saat akan membersihkan sumur di

Close