DI BALIK JALAN TEMBUS PERBATASAN GUNUNGKIDUL-KLATEN (2) – Muncul Rembesan Air yang Memberi Manfaat

TAK mudah pekerjaan untuk membuka jalan tembus yang kondisinya berupa batu pegunungan. Namun hal yang sepertinya mustahil itu akhirnya berhasil menjadi kenyataan.

Adalah para pekerja yang secara sukarela dan gigihnya, telah mampu menaklukkan beratus bebatuan sebesar gajah. Cara paling ampuh yang mereka terapkan adalah dengan dnamit. Alhasil, ledakan batu-batu raksasa itu menciptakan pemandangan seperti kapas yang berhamburan.

Seorang saksi mata dari warga Sambeng yang kala itu ikut terjun langsung mengatakan, perlu kehati-hatian untuk melakukan pekerjaan berbahaya ini. Bahkan operatornya harus berada 1 kilo meteran untuk berlindung dari hamburan batu kapur.

Sejak langkah ini dilakukan, maka kesan jalan setapak langsung hilang sama sekali. Pelebaran dan pembangunan jalan tampak jelas, karena kemudian mampu untuk melintas kendaraan bermotor termasuk mobil. Namun memang masih perlu pembenahan lebih lanjut, agar kondisi lebih bagus lagi.

Projek monumental ini memberikan nilai positif bagi warga sekitar dan juga masyarakat umumnya. Jalan jadi luas dan akses perekonomian kian membaik. Gaplek dan sayuran yang menjadi andalan warga, dengan gampang dibawa ke pasar lor gunung. Tapi hingga saat ini unik dan ajaibnya jalan jonjrongan itu mengeluarkan rembesan air. Tampak bocoran air itu kondisinya mirip setelah terguyur hujan sekalipun sedang tidak hujan. Padahal jalan itu sudah diaspal hotmik, namun tetap saja ada bocorannya. Rupanya ada fenomena alam yang diperoleh saat pembuatan jalan tembus. Yakni, telah ditemukan mata air yang cukup deras. Tasopi hal ini diperkirakan akan mengganggu lalu-lintas yang lewat. Sehingga agar bisa dilalui maka mata air itu perlu ditutup. Toh demikian, berbagai upaya yang dilakukan belum membawa hasil seperti yang diharapkan.

Atas saran seorang sesepuh kala itu, hingga terdengar sampai kraton. Mereka yang paham untuk mengatasi hal demikian minta eguh pertikel. Seorang sesepuh desa itu kemudian diberikan sebuah tombak, yang digunakan untuk memaku bersama lilitan ijuk dan gong. Benda itu yang ditanam di sumber mata air dan akhirnya bisa teratasi. Sekarang mata air yang berada di sekitar jalur dimanfaatkan warga Sambeng menjadi PAMSIMAS, sejenis PDAM-nya desa.

Meski demikian, masih sering terjadi keanehan yang dialami warga. Seperti sering menjumpai kepala naga yang menyembul, yang tampak di sela rimbunnya tanaman jati yang ada di sekitar jalan tembus. Bagi warga setempat hal itu tak mengapa dan sudah menjadi tetenger atau pertanda yang baik. Bagi yang telah paham, bahwa itu perwujudan dari pusaka yang diberikan tempo dulu saat membuka jalan tembus ini. (WA Sutanto)

Read previous post:
Keranda Mayat Melayang Tiap Malam Jumat

FANDI guru yang bertugas di daerah Cililin, dan tinggal di rumah dinas. Awalnya tidak pernah menyangka, rumah yang ia tempati

Close