DI BALIK JALAN TEMBUS PERBATASAN GUNUNGKIDUL-KLATEN (1) – Ada Sebutan Etan Ndalan dan Kulon Ndalan

Kondisi wilayah yang berbentuk perbukitan terjal, membuat akses dari dan menuju Gunungkidul yang berbatasan dengan wilayah Jawa Tengah, khususnya Klaten, menjadi teramat sulit. Sebelum adanya pembangunan belakangan ini, ada akses jalan tembus, yang ternyata menyimpan banyak kisah dan misteri.

JALAN pra tembus itu masih berupa jalan setapak. Batu-batu masih berserakan dan masih sulit untuk melakukan pengangkutan barang. Hal ini turut mempersulit transportasi dan proses pembangunan daerah setempat. Pernah saat mengangkut kayu untuk bangunan Masjid Sambeng, harus dipikul oleh 9 orang secara bersamaan.

Itulah potret desa yang berada di perbatasan dengan segala aktivitasnya kala itu. Transportasi masih manual, terutama dengan jalan kaki. Masih teringat Lik Tukiyat kala tahun 1966 pergi dan pulang sekolah ke Cawas dengan menggunakan sepeda ontel. Dari rumah sepeda harus dipikul dan baru bisa dikayuh setelah sampai perbatasan.

Bagi Mbah Mangun selaku bakul gedang dan sayuran, mengenang saat pada tengah malam akan dijumpai pemandangan yang elok, dengan adanya obor yang berarakan menuju pasar. Pukul 03.00 pagi sudah terilihat iring-iringan obor itu. Apalagi setiap pasaran Kliwon, masyarakat pada turun gunung ke pasar Ngangkruk yang ada di Karang Tengah Weru Sukoharjo.

Seiring pertumbuhan pembangunan yang digencarkan pemerintah, maka memunculkan untuk membuka jalan tembus tersebut. Kondisi jalan sekarang sudah sangat mendukung kelancaran lalu-lintas. Utamanya dalam peredaran roda perekonomian masyarakat. Termasuk dalam hal ini pembangunan jalan tembus Djentir-Bulu. Keberadaan jalan yang berada di daerah Sambirejo Ngawen Gunungkidul ini sangat berarti. Secara kolosal telah dibangun pada tahun 1968. Berkat kerja sama masyarakat dan unsur TNI dengan Pogram Operasi Karya Bakti. Hal ini telah berhasil membuka jalan yang menghubungkan Gunungkidul dengan daerah luar.
Kala itu berbagai alat telah digunakan oleh masyarakat. Bahkan dengan menggunakan peledak berupa dinamit. Termasuk barang serpihan atau cuilannya tersimpan di pos kamling Sambeng. Jalan ini oleh kebanyakan orang lebih mengenal dengan sebutan “Jonjrongan Sambeng”.

MERAPI-WA SUTANTO  Prasasti Operasi Karya Bakti tahun 1968.
MERAPI-WA SUTANTO
Prasasti Operasi Karya Bakti tahun 1968.

Jalan itu konsekuensinya kemudian memisahkan dua area. Di antaranya adalah soal arah timur (etan) dan barat (kulon) jalan. Oleh warga, ada kepercayaan untuk menjawab beberapa korban laka di daerah ini yang dikarenakan rem blong atau tak kuat nanjak akibat muatan berat.

Ada harapan yang positif ketika terjadi kecelakaan, kebanyakan bila korban ke arah barat kebanyakan selamat. Terkadang truk atau mobil yang terjerembabg ke jurang itu sampai pecah baknya, namun orangnya tetap bugar. Sebaliknya jika yang kecelakaan yang arah ke timur, banyak yang celaka bahkan meninggal. Konon menurut keterangan yang ada di sekitar lokasi, bahwa arah timur itu adalah sebuah pasar. Mereka pada transaksi barang dan korban itu dianggap barang dagangan.

Untuk menjaga kemungkinan kendaraan tak kuat nanjak atau rem blong, maka disarankan untuk mengecek kondisi kendaraan tersebut. (WA Sutanto)

Read previous post:
Pepaya Singkirkan Toksin di Tubuh

TANAMAN pepaya dikenal sebagai tanaman multi manfaat, sebab mulai dari bagian daun, getah, daging buah serta batang tanaman mempunyai manfaat

Close