BOROBUDUR: JEJAK KECANGGIHAN LELUHUR (6-HABIS) – “Ngrogoh Kunto Bimo” Jadi Mitos

BANYAK kepercayaan terkait dengan Candi Borobudur. Sebagian besar masyarakat setempat juga percaya bahwa arca Budha di dalam stupa di teras Arupadhatu, pada tersa melingakar tepatnya di tingkat I sisi timur, arca yang berada di dalam stupa dengan lubang berbentuk belah ketupat terkenal dengan sebutan nama arca Kunto Bimo. Menurut mitos, barangsiapa yang dapat menyentuh jari manis untuk pengunjung laki-laki dan tumit untuk pengunjung perempuan, maka segala keinginannya akan terkabul.

Itulah mitos yang terdapat dengan apa yang terkenal dengan istilah “ngrogoh Kunto Bimo”. Sekalipun demikian tindakan menaiki stupa atau menyentuh arca di dalam stupa dapat mengancam kelestarian dari arca tersebut. Sentuhan-sentuhan pada arca juga dapat menyebabkan keausan (penyusutan) pada batu arca.

Kepercayaan yang berbalut misteri lainnya berkenaan dengan apa yang ada di Borobudur adalah hal yang berkait dengan keberadaan arca unfinished Budha yang saat ini berada di Museum Karmawibhangga. Arca ini dalam masyarakat setempat lebih dikenal dengan nama Kyai Belet. Oleh penganut agama Budha arca tersebut dianggap sebagai Budha Tertinggi yang dulunya berada di stupa induk.

Hal lain yang juga menjadi misteri di Borobudur adalah adanya anggapan bahwa puncak Candi Borobudur dulunya dilengkapi dengan chattra atau payung. Anggapan ini didasarkan pada temuan beberapa fragmen chattra oleh van Erp. Hasil rekonstruksi chattra telah didokumentasikan oleh van Erp namun kemudian dilepas kembali. Chattra tersebut sekarang berada di Museum Karmawibhangga, Borobudur.

Arsitek Prancis

Jaques Dumarcay adalah seorang arsitek berkebangsaan Perancis yang memunculkan teori tentang tahapan pembangunan Candi Borobudur. Menurut J Dumarcay Candi Borobudur didirikan pada zaman keemasan Dinasti Syailendra (750-850 M). Menurutnya pula Candi Borobudur dibangun dalam lima tahapan. Tahap I diperkirakan terjadi pada tahun 780 M. Pada Tahap I ini dibangun tiga tingkat kaki candi yang semakin ke atas semakin kecil. Struktur ini membentuk pyramid. Namun kemudian bentuk tersebut diubah.

Tahap II dibangun sekitar tahun 792 M. Terdapat perluasan kaki dan penambahan beberapa tingkat yang semakin ke atas semakin kecil. Pada bagian atas terdapat sebuah stupa yang sangat besar yang dikelilingi pagar berbentuk lingkaran.
Tahap III kemungkinan besar dibangun pada tahun 824 M. Pada tahap ini terdapat perubahan pada bagian puncaknya, yaitu dari bentuk stupa yang besar menjadi tiga baris stupa-stupa yang kecil yang melingkar dan sebuah stupa yang lebis besar pada bagian tengahnya (namun jauh lebih kecil dari ukuran stupa pada tahap sebelumnya).

Tahap IV dan V kemungkinan dibangun pada tahun 833 M. Terdapat sedikit perubahan yang meliputi penambahan pada bagian kaki candid an pagar langkan pertama dan ornament-oranmen pada pagar langkan tersebut. Tidak ada perubahan simbol pada candi di tahap pembangunan ini.(Albes Sartono)

Read previous post:
Misteri di Malam Tahun Baru

SIAPA sangka jika peristiwa misteri justru terjadi pada zaman modern begini? Dan terjadi baru-baru saja, justru tepat pada malam tahun

Close