BOROBUDUR: JEJAK KECANGGIHAN LELUHUR (3) – Tertimbun Tanah dan Ditemukan Lagi Tahun 1814

SETELAH berabad-abad lamanya tertimbun tanah dan tertutup semak belukar, Candi Borobudur muncul kembali pada tahun 1814 ketika Sir Thomas Stamfford Raffles, Gubernur Jenderal Inggris mengadakan kegiatan di Semarang. Pada saat itu Raffles mendapatkan informasi bahwa di daerah Kedu telah ditemukan susunan batu bergambar. Raffles kemudian mengutus Cornelius untuk membersihkannya. Proyek pembersihan kawasan Candi Borobudur ini melibatkan 200 orang pekerja. Mereka mengerjakan pekerjaan itu atas perintah Raffles dan dikerjakan selama 45 hari.

Berkat kerja keras Ijzerman maka pada tahun 1855 relief yang tersembunyi di bagian bawah candi berhasil ditemukan. Relief tersebut mengandung penjelasan yang dibuat oleh para pemahat tentang masa pembangunan candi tersebut di abad ke-9 pada masa pemerintahan Dinasti Syailendra. Beberapa bagian dari relief yang berisi penjelasan oleh para pemahat dalam bahasa Sansekerta ditemukan dalam keadaan setengah jadi. Gaya bahasa dan penulisan yang terdapat pada relief bisa dibilang cukup berbeda sehingga bisa disimpulkan bahwa relief tersebut dibuat pada pertengahan abad ke-9.

Pekerjaan yang dilakukan Cornelius tersebut kemudian diteruskan pada tahun 1835 oleh Residen Kedu yang bernama Hartman. Selain membersihkan, Hartman juga mengadakan penelitian khususnya terhadap stupa puncak Candi Borobudur, namun laporan mengenai penelitian itu tidak pernah terbit. Pendokumentasian yang berwujud gambar bangunan dan relief candi dilakukan oleh Wilsen selama empat tahun sejak tahun 1849. Sedangkan dokumentasi foto dibuat pada tahun 1873 oleh Van Kinsbergen.

Pada tahun 1907 dilakukanlah pemugaran besar-besaran oleh seorang ahli berkebangsaan Belanda, Theodorus van Erp. Pemugaran itu selesai tahun 1911. Pemugaran tersebut memberikan perubahan yang cukup berarti bagi candi. UNESCO pada tahun 1956 mengirimkan salah seorang ahlinya yang berkebangsaan Belgia untuk melakukan uji kelayakan terhadap Candi Borobudur dan disimpulkan bahwa kerusakan utama candi disebabkan oleh air dan harus segera dilakukan upaya pencegahan agar candi bisa bertahan lama. Bagian bukit yang berada di bawah candi juga mengalami erosi sehingga menjadikan pondasi candi tidak kuat, begitu pula dengan relief-relief di bagian bawah.

Persiapan pemugaran dilakukan pada tahun 1963 saat itu disimpulkan bahwa bukit dimana Candi Borobudur dibangun bukanlah sebuah bukit natural, sedangkan area di sekitar bukit merupakan tanah liat yang bercampur dengan bebatuan dan kerikil. Diperkirakan oleh karena kondisi-kondisi semacam itu maka diperlukan pemugaran dalam skala besar.

Pemerintah Indonesia mengajukan proposal kepada UNESCO pada tahun 1968 untuk pemugaran Candi Borobudur dan akhirnya UNESCO memberikan dukungan penuh. Selama masa pemugaran dari tahun 1968-1983 UNESCO memiliki kewenangan penuh untuk segala macam bentuk penelitian. Para ahli dari berbagai belahan dunia berdatangan untuk melakukan pembongkaran dan pemasangan kembali bagian-bagian candi. (Albes Sartono)

Read previous post:
Wewe Ngeyel Minta Dicintai

NENEK Salimah tinggal dekat Kali Progo wilayah Bantul. Dia punya peliharaan bebek, jumlahnya 50 ekor, empat puluh delapan betina, 2

Close