BOROBUDUR: JEJAK KECANGGIHAN LELUHUR (2) – Siddharta Gautama Kotbah Pertama di Taman Rusa

RELIEF Candi Borobudur terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu Relief Karmawibhangga, Relief Lalitavistara, Relief Jataka-Avadana, dan Relief Gandavyuha. Relief Karmawibhangga terletak pada kaki candi (tingkat I). Relief ini mengungkapkan tentang perbuatan kebajikan maupaun keburukan manusia dengan segala akibat atau konsekuensinya. Segala perbuatan baik akan mendapatkan ganjarannya di surga dan perbuatan buruk akan menerima hukumannya berupa siksaan di neraka. Relief Karmawibhangga berjumlah 160 panil yang ditutup pada masa Candi Borobudur masih dalam tahap pembangunan. Kemungkinan karena alasan teknis untuk menahan beban atas bangunan tersebut agar tidak longsor.

Relief Lalitavistara berjumlah 120 panil yang menggambarkan riwayat hidup Sang Budha Gautama. Cerita ini dimulai dengan dikabulkannya doa Bodhisattva agar para dewa dari Surga Tushita bersedia turun ke dunia dan menjelma menjadi manusia bernama Siddharta Gautama hingga menyampaikan kotbahnya yang pertama di Taman Rusa.

Relief Jataka-Avadana terletak pada dinding candi lorong pertama (tingkat III) bagian bawah, dinding pagar langkan dalam bagian atas dan bawah, dan dinding pagar langkan dalam lorong kedua (tingkat IV). Relief Jataka-Avadana menceritakan kehidupan Budha di masa lalu sebelum dilahirkan sebagai seorang manusia bernama Sidharta Gautama. Jataka adalah cerita tentang Bodhisattva yang mengalami kelahiran berulang kalidalam berbagai wujudnya untuk membantu manusia mencapai jalan kebudhaan. Avadana adalah cerita yang mirip dengan Jataka namun tokoh utamanya bukanlah Budha, melainkan tokoh lain atau hewan biasa yang bukan jelmaan Bodhisattva. Relief Jataka terletak pada pagar langkan tingkat III bagian dalam dengan jumlah 500 panil dan sebanyak 120 panil pada dinding tingkat III. Sebanyak 100 panil lanjutan Jataka-Avadana terletak pada tingkat IV sehingga total relief Jataka-Avadana adalah 720 panil.

Relief Gandavyuha dipahatkan pada dinding candi tingkat IV, V, dan VI. Relief ini menggambarkan pengembaraan Sudhana dari satu guru ke guru lain dalam upaya mencapai kebudhaan. Relief Gandavyuha pada tingkat IV terpahat pada 129 panil. Relief pada tingkat V menggambarkan riwayat Bodhisatva Maitreya sebagai calon Budha yang akan datang. Relief ini merupakan kelanjutan dari cerita di tingkat IV. Terdapat 88 panil pada dinding candi dan 88 panil pada pagar langkan. Pada tingkat VI terdapat relief Gandavyuha sebanyak 72 panil pada pagar langkan dan 88 panil pada dinding candi. Ke-72 panil ini mungkin menggambarkan hidup seorang Bodhisattva Samantabadra.

Jumlah arca di Candi Borobudur adalah 504 buah. Arca-arca tersebut terdapat pada tingkat Rupadhatu sebanyak 432 arca dan pada tingkat Arupadhatu terdapat 72 arca. Arca-arca pada tingkat Rupadhatu berukuran semakin ke atas semakin kecil. dan diletakkan pada relung. Arca-arca padha tingkat Rupadhatu dengan ukuran yang sama diletakkan di dalam stupa.

Dari sekian arca di kompleks Candi Borobudur, arca yang disebut Unfinished Budha karena bentuknya yang belum sempurna dianggap sebagai Budha tertinggi. Arca ini ditemukan di terpendam di bawah pohon kenari di halaman Candi Borobudur. Sikap tangan arca Unfinished Budha adalah Bhumisparsamudra yang berarti merupakan Dhyani Budha Aksobhya. Selain itu, di kompleks Candi Borobudur juga terdapat 32 arca Singa. Menurut agama Budha singa adalah kendaraan sang Budha pada waktu naik ke surga. Selain itu juga merupakan simbol kekuatan pengusir roh jahat untuk menjaga kesucian Candi Borobudur. Penggambaran singa di Candi Borobudur dikenal sebagai singa yang ramah (tidak menunjukkan ekspresi wajah yang seram).

Candi Borobudur memiliki 73 buah stupa dengan rincian 1 buah stupa induk, 32 stupa pada teras melingkar I. Pada teras melingkar II terdapat 24 stupa dan pada teras melingkar III terdapat 16 stupa. Stupa induk tidak berlubang terawang, sedangkan stupa pada teras melingkar adalah stupa berlubang terawang. Lubang-lubang terawang pada stupa teras melingkar I dan II berbentuk belah ketupat dan pada stupa teras melingkar III berbentuk segi empat.

Lubang terawang belah ketupat secara filosofis melambangkan gambaran menuju ke tingkat kesempurnaan. Bentuk belah ketupat merupakan lambang atau simbol keadaan yang masih belum stabil. Sedangkan lubang terawang berbentuk segi empat merupakan sombol yang lebih sederhana atau lebih sempurna dibandingkan bentuk belah ketupat sebagai simbol yang masih belum stabil. Bentuk lubang segi empat atau kotak ini menyimbolkan keadaan yang lebih stabil atau tidak mudah goyah. (Albes Sartono)

Read previous post:
Anggur Cegah Penyumbatan Pembuluh Darah

SAAT menyambangi kios buah akan menemukan jenis-jenis buah populer di masyarakat. Selain memiliki tampilan khas serta kandungan gizi cukup tinggi,

Close