BOROBUDUR: JEJAK KECANGGIHAN LELUHUR (1) – Sulit Dipercaya Sebagai Ciptaan Manusia

KEBERADAAN Candi Borobudur di Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah hingga kini tidak kunjung henti mengundang decak kagum orang. Kemegahan, gaya arsitetural, filosofi, keindahan relief dan patungnya, kandungan ceritanya, cara pemilihan letaknya, jumlah susunan balok batu andesit yang menjadi material utamanya, lama pengerjaannya, dan lain-lainnya selalu mengundang kekaguman. Keluarbiasaan Candi Borobudur juga telah diakui dunia sebagai world heritage dan juga menjadi salah satu keajaiban dunia.

Tidak heran hal ini juga memunculkan tanggapan yang bermacam-macam. Bahkan banyak juga yang tidak percaya bahwa bangunan Candi Borobudur diciptakan oleh manusia, yang dalam hal ini adalah leluhur bangsa Nusantara (Jawa). Bahkan banyak juga yang mengaitkannya dengan kinerja jin atau roh halus. Semua itu terjadi oleh karena keluarbiasaan penciptaan dan pengerjaan bangunan mahakarya yang diperuntukkan untuk memuliakan agama Budha ini.

Candi Borobudur berada di dataran rendah Kedu dan dikelilingi oleh Gunung Merapi dan Gunung Merbabu di sisi timur, Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing di sebelah utara serta Pegunungan Menoreh di sebelah selatan. Keberadaannya juga terletak dekat dengan Sungai Progo dan Sungai Elo. Candi Borobudur didirikan di atas bukit yang telah dimodifikasi dengan ketinggian 265 meter dpl. Candi Borobudur disusun menggunakan batu andesit (batu kali). Bentuk strukturnya adalah punden berundak yang semakin ke atas semakin mengecil dengan empat buah tangga yang terletak di setiap sisi mata angin (utara-timur-selatan-barat).
Strukturnya terdiri atas sembilan teras berundak yang terdiri dari enam teras berdenah persegi dan tiga buah teras berdenah lingkaran. Di antara bentuk teras tersebut terdapat lantai yang disebut plateau. Ukuran panjang candi ini adalah 121,66 meter, lebar 121,38 meter, dan tinggi 35.40 meter.

Menurut filsafat agama Budha Candi Borobudur merupakan tiruan alam semesta yang terdiri dari tiga tingkatan secara vertical, yakni Kamadhatu (bagian bawah candi yang melambangkan alam bawah, menggambarkan perilaku manusia yang masih terikat oleh nafsu duniawi/tempat manusia biasa), Rupadhatu (bagian tengah candi yang melambangkan alam antara, menggambarkan perilaku manusia yang sudah mulai meninggalkan keinginan duniawi, akan tetapi masih terikat oleh dunia nyata , dan Arupadhatu (bagian atas candi yang melambangkan alam atas, tempat para dewa, simbol dari unsur tak berwujud dan sebagai tanda tingkatan yang telah meninggalkan nafsu duniawi).

Batu-batu yang digunakan untuk mendirikan Candi Borobudur diperkirakan berasal dari sungai-sungai di sekitar Borobudur dengan volume keseluruhan sekitar 35.000 meter kubik (kira-kira 2.000.000 potong batu). Selain itu, Candi Borobudur memiliki 1.460 panil relief cerita yang tersusun dalam 11 deretan mengitari bangunan candi. Kecuali itu Candi Borobudur juga mempunyai relief dekoratif berupa relief hias sejumlah 1.212 panil. Relief-relief tersebut dipahatkan di dinding pagar langkan. Untuk membaca cerita yang digambarkan dalam relief dilakukan secara pradaksina, yaitu mengelilingi candi searah jarum jam. (Albes Sartono)

Read previous post:
Cucu Penunggu Pohon Duwet Putih

AKHIR-AKHIR ini banyak yang hobi mengoleksi tanaman buah dalam pot alias tabulampot. Mas Woto tidak ketinggalan berupaya memperbanyak koleksinya. Ketika

Close