Ki GEDE REDI MIJIL (1) – Membuka Hutan untuk Mendirikan Padepokan


KETIKA Pasukan kerajaan Mataran nglurug ke Bang Wetan sekitar tahun 1576 untuk memperluas wilayahnya puluhan ribu prajurit diikutsertakan. Mereka dibagi dalam bregada-bregada yang dipimpin oleh seorang lurah prajurit. Secara pribadi masing-masing prajurit tentu punya motivasi sendiri-sendiri, ada yang semangatnya makantar-kantar pejah gesang ndherek Kanjeng Prabu Senopati Ing Ngalaga, ada pula yang merasa terpaksa ikut karena takut dengan pejabat kerajaan yang merekrutnya, dan ada pula satu dua orang prajurit tangguh dalam ilmu kanuragan tetapi tidak menyukai kekerasan apalagi peperangan.

Mereka berpikir, manusia tidak sama dengan binatang dimana setiap persoalan diselesaikan dengan adu fisik, perang, dan ditentukan dengan menang atau kalah. Gusti Yang Maha Agung memberikan akal kepada manusia agar bisa berpikir, membuat perhitungan, pertimbangan, dan upaya untuk berembuk jika terjadi konflik satu dengan yang lain guna mencari kesepakatan bersama yang saling menguntungkan. Inilah yang membedakan manusia dengan binatang. Jika manusia selalu berperang, menjajah, menaklukan pihak lain dengan kekerasan maka dia tak ubahnya seperti binatang di rimba raya.

Berawal dari pemikiran seperti itulah maka Ngabei Sutasoma seorang lurah prajurit bersama dua orang pengawalnya ingin meloloskan diri dari pasukan Mataram. Ketika itu puluhan ribu prajurit Mataram sedang dalam perjalanan akan menaklukkan Bang Wetan (Jawa Timur) sampai di daerah Sukowati mereka beristirahat. Saat itulah di tengah malam Ngabei Sutasoma bersama pengawalnya diam-diam meninggalkan pasukan dan berjalan masuk ke hutan. Berhari-hari lamanya mereka menempuh perjalanan ke arah barat. Akhirnya perjalanan mereka sampai di hutan sebelah barat Kraton Mataram. Ngabei Sutasoma mengajak kedua pengawalnya beristirahat di situ karena tempatnya cukup nyaman, rimbanya tidak begitu lebat, ada sebuah gumuk kecil, dan berdekatan dengan sumber air bersih yang melimpah.

“Gumuk ini aku namakan Gunung Mijil. Karena puncaknya nampak seperti muncul atau mijil dari rerimbunan semak belukar,” kata Ngabei Sutasoma.

“Sumber air di bawah pohon Preh itu sebaiknya dinamakan Sumber Rejo, Ngabei!” usul salah satu pengawalnya.

“Aku setuju dengan pendapatmu. Sekarang aku akan madeg sebagai Ki Gede Redi Mijil, kau sebagai Panji Rapak. Sedangkan kamu sebagai Ki Ageng Buthak sesuai dengan kepalamu yang botak.” Mendengar dhapukan yang diberikan Ngabei Sutasoma tersebut kedua pengawalnya tertawa-tawa girang.

Hari-hari berikutnya ketiga mantan prajurit itu bertekad untuk menetap di tempat itu. Mereka begitu rajinnya babat alas setiap hari karena ingin menjadikan tempat itu setidak-tidaknya sebagai padukuhan atau kalau bisa sebagai sebuah kademangan dan merekalah yang akan duduk sebagai pemimpinnya.
Singkat cerita akhirnya mereka bertigapun berhasil membuka hutan yang cukup luas dan menjadikannya sebagai pemukiman. Didirikanlah sebuah Padepokan di sekitar Gunung Mijil. Mereka bertiga juga menanami pategalan yang dibukanya dengan berbagai jenis tanaman pangan. Sumber air lalu dialirkan ke situ agar tanaman-tanaman tumbuh lebih subur dan hasilnya lebih baik. Beberapa bulan kemudian orang lain mulai berdatangan ke Padepokan Gunung Mijil ingin hidup bersama untuk menyerap ilmu, menimba pengalaman sekaligus mencari rejeki bersama Ki Gede Redi Mijil, Ki Panji Rapak, dan Ki Ageng Buthak.

Demikianlah sepenggal kisah tentang asal muasal Gunung Mijil yang dituturkan oleh Wasina (60 th) warga sekitar makam Gunung Mijil. Di sana ada sebuah nisan kuna berukuran cukup besar dari batu andesit dengan tehnik pembuatan paron, separo-separo lalu disambungkan di bagian tengah. Diantara banyak nisan di kuburan gunung Mijil maka nisan inilah yang sering dikunjungi peziarah meski yang datang jumlahnya tidak banyak dan biasanya hanya pada malam tanggal 1 Sura. Makanya menurut mereka yang pernah datang ke kuburan Gunung Mijil di wilayah Kalurahan Sidoluhur, Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman ini istilah mereka hanyalah tetirah.

Sementara itu, Mbah Samijan warga Nagasari, Sidokarto, Godean yang sudah beberapa kali tetirah ke Gunung Mijil mengatakan jika dirinya merasa bisa berkomunikasi dengan penguasa gaib tempat itu. Ki Gede Redi Mijil baik hati, lembah manah, sembur tuture mentes, dan tinulad. Pedagang ayam ini menjelaskan, roh-roh yang sumare di sana kebanyakan wajar-wajar saja, prasaja. Kalaupun ada penampakan wujudnya juga priyayi lumrah saja, tidak spektakuler, tidak medeni, biasa-biasa saja. Barangkali itulah sebabnya peziarah yang datang hanya jarang-jarang, sedikit. Meski hal tersebut tidak bisa dijadikan ukuran. Toh orang satu dengan yang lain bisa saja berbeda pendapatnya?.
Bola Sinar Warna Kuning. (Akhiyadi)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Rehab Rumah Tiap Malam Jumat Kliwon

BEGINILAH problem bagi sebuah keluarga yang belum mempunyai rumah sendiri. Harus mau menjadi ‘kontraktor’. Ngontrak sana ngontrak sini. Seminggu lalu

Close