ADIPATI UKUR MENGGOYANG MATARAM (1) – Mengajak Priangan untuk Memberontak

SYAHDAN kerajaan Mataram kekuasaannya sampai brang kulon wilayah Priangan, Jawa Barat. Ada beberapa kadipaten yang masuk kukuban
Mataram, seperti Galuh, Ukur serta Pasundan lainnya. Adalah Adipati Wangsanata penguasa di Kadipaten Ukur, salah seorang yang merkitik atine, merasa tidak nyaman berada di bawah kekuasaan Mataram yang dipimpin Sultan Agung.

Maka Adipati Wangsanata mengajak seluruh kadipaten wilayah Priangan untuk memberontak kepada Mataram, ingin merdeka tidak di bawah kekuasaan Mataram. Berhasilkah usaha Adipati Wangsanata dari kadipaten Ukur mengalahkan Mataram ?
Dalam babad Tanah Jawa diceriterakan, usaha Adipati Wangsanata kadipaten Ukur menyebarkan ajakan untuk memberontak lepas dari Mataram kepada para penguasa di wilayah Priangan. Namun agaknya ajakan tersebut tidak direspon, karena mereka rata-rata mengakui kekuasaan Mataram di bawah Sultan Agung. Salah satunya Kadipaten Galuh, yang juga dibujuk untuk bersatu memberontak lepas dari Mataram. Adipati Galuh menolak mentah-mentah ajakan atau bujukan dari Adipati Wangsanata, bahkan secara diam-diam melapor kepada Sultan Agung di Mataram.

Tentu saja membuat murka raja Mataram tersebut, maka dengan segera mengirimkan prajurit sagelar sepapan untuk menggilas Kadipaten Ukur dan merangket Adipati Wangsanata untuk dijadikan pangewan-ewan. Adipati Wangsanata ternyata telah siap lebih dahulu, ketika prajurit Mataram datang. Siasat perang dilakukan, beberapa prajurit Kadipaten Ukur ditarik naik ke Gunung Lumbung sambil mengatur strategi.

Betul juga prajurit Mataram mengejar naik ke Gunung Lumbung untuk merangket Adipati Wangsanata yang telah berani mbalela mbondhan da tanpa ratu, sebagai pengajaran. Perang antara prajurit Mataram dan Kadipaten Ukur tak terhindarkan, prajurit Mataram menyerang dari bawah kaki bukit. Dilain pihak prajurit Kadipaten Ukur dari atas gunung lebih banyak menguasai medan, dengan melempar batu-batu besar sehingga menimpa prajurit Mataram. Anehnya, ada sebuah batu yang seakan bisa dikendalikan dari atas gunung oleh Adipati Wangsanata untuk menyerang prajuit Mataram. Dengan akal liciknya Adipati Wangsanata mengerahkan ilmunya yang bernama Munding Lalampah, bisa mengendalikan sebuah batu untuk menyerang kesana-kemari prajurit Mataram.

Tentu saja banyak prajurit Mataram jadi korban terjangan batu yang dikendalikan ilmu Munding Lalampah, akibatnya membuat morat-marit prajurit Mataram. Korban tewas bergelimpangan, prajurit Mataram susut kekuatannya. Untuk mencari selamat banyak prajurit Mataram lari ke Sumedang, sementara Adipati Wangsanata bersama prajuritnya dari atas Gunung Lumbung bersorak gembira merayakan kemenangannya.

Akhirnya Ki Narapaksa pucuk pimpinan prajurit Mataram memerintahkan mundur, untuk mengatur strategi bagaimana caranya menangkap Adipati Wangsanata. Mungkin bekal ilmu Munding Lalampah itulah Adipati Wangsanata berani memberontak kepada Mataram, wajar kalau seluruh adipati di Priangan kalah wibawa. Namun mereka mau membantu secara terang-terangan takut pada Mataram, dan masih mengakui kekuasaan Mataram. Adipati Wangsanata semakin bangga dengan kemenangannya berhasil mengalahkan prajurit Mataram, dalam benaknya ingin segera lepas dari Mataram. Kepada para prajuritnya, Adipati Wangsanata mengatakan bahwa dirinya tidak memihak Kumpeni Belanda dan lepas dari Mataram semata-mata agar bisa hidup mandiri. Untuk sementara Adipati Wangsanata bersama prajuritnya makuwon di puncak Gunung Lumbung. Di sekitarnya tersedia tumpukan batu-batu besar siap digelundungkan, untuk menerjang prajurit Mataram yang berani naik gunung untuk melakukan penyerangan. (Ki Sabdo Dadi)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
KETUA DPC PDIP KOTA YOGYA EKO SUWANTO: Selamat Berjuang DPRD Kota Yogya 2019-2024

YOGYA (MERAPI) - Lima hari menjelang peringatan Proklamasi 17 Agustus 1945, yakni tanggal 12 Agustus 2019, berlangsung pelantikan dan pengambilan

Close