KISAH TRAGIS RADEN PABELAN (4-HABIS) – Memicu Ketegangan Pajang dengan Mataram

Tak ada orang tua yang ingin menyerumuskan anaknya. Namun jika seorang anak terjerumus gara-gara nasihat orang tuanya, maka risiko besar pun harus ditangung bersama. Begitu pula dengan Tumenggung Mayang, yang harus menerima akibat ulah dari Raden Pabelan.

KI Tumenggung Mayang judheg. Beliau ternyata turut terkena murkanya Kanjeng Sultan Pajang. Sebagai akibatnya Tumenggung Mayang dibuang ke Semarang sedangkan Nyi Tumenggung tetap tinggal di Pajang.

Seribu Prajurit lengkap dengan persenjataannya mengiringi Tumenggung Mayang ke Semarang. Mereka di pimpin oleh delapan orang mentri dengan naik kuda di depan iring-iringan prajurit yang berjalan kaki. Perjalanan ke Semarang yang merupakan arak-arakan yang bermaksud menghinakan Tumenggung Mayang ini sengaja diperlambat langkahnya agar banyak orang yang melihatnya sepanjang route yang dilewati. Hal ini ternyaata diketahui oleh telik sandinya Mataram yang segera melaporkannya kepada Panembahan Senopati.

Mendengar Tumenggung Mayang iparnya dinisthakan sepanjang jalan oleh Sultan Pajang, Panembahan Senopati marah-marah, tersinggung, dan tidak bisa menerima perlakuan tersebut.

“Hei, saudara-saudaraku mentri pajak, Ingsun minta bantuan kalian untuk iparku Tumenggung Mayang yang akan dibuang ke Semarang. Tolong rebutlah beliau dan bawalah kemari!”, perintahnya.

“Sendika dhawuh, Kanjeng Panembahan”, jawab mentri-mentri pajak itu segera menyusul perjalanan rombongan mentri dan prajurit Pajang yang membawa Tumenggung Mayang. Dengan mengambil jalan-jalan pintas sambil mempercepat lari kudanya mereka berhasil menyusulnya sampai di desa Jatijajar. Mentri-mentri pajak disertai puluhan Prajurit pilihan dari Mataram itu bener-bener unggul dalam kemampuan. Mereka langsung mengamuk di atas punggung kudanya masing-masing dengan senjata mereka yang rata-rata nenggala atau tombak pendek dengan kedua ujungnya yang runcing dan tajam, kuda-kuda mereka dengan gagah berani menerjang lawan. Penunggangnya lincah memainkan senjatanya, menebas, menusuk, dan juga menangkis senjata lawan.

Sorak sorai kemenangan para mentri dari Mataram bersautan dengan teriakan semangat prajuritnya itu sungguh merupakan kekuatan yang dahsyat. Akhirnya Tumenggung Mayang berhasil direbut, banyak mentri-mentri dan prajurit-prajurit Pajang yang tewas dalam pertempuran itu. Sedangkan yang masih selamat melarikan diri kembali ke Pajang dan melaporkan kejadian di luar perhitungan itu kepada Kanjeng Sultan.

“Hmmmm, Senopati Ing Ngalaga benar-benar akan melawan Pajang. Ini pertanda awal dia mengajak bermusuhan denganku”, gumam Kanjeng Sultan. Kemudian beliau memerintahkan agar menyiapkan pasukan dengan senjata selengkapnya untuk menggempur Mataram. Selain itu Kanjeng Sultan juga memberitahu semua bupati mancanegara dalam kekuasaannya dan juga putra-putra menantu seperti Adipati Demak, Adipati Tuban, Adipati Banten untuk segera berkumpul di Pajang lengkap dengan prajurit dan pasukan mereka masing-masing. (Akhiyadi)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
PASIEN PUSKESMAS MOTRET DATA JENIS KELAMIN MINTA MAAF-Dinkes Yogya: Dokumen Kesehatan Bersifat Rahasia

UMBULHARJO (HARIAN MERAPI) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta memastikan tidak ada diskriminasi dalam pelayanan kesehatan di puskesmas. Adanya penulisan

Close