PENANDA PEREMPUAN MASUK USIA DEWASA-Lestarikan Adat Tetesan dan Taraban

SIMULASI upacara adat Tetesan dan Taraban diadakan di Kelurahan Patehan Kota Yogyakarta belum lama ini. Upacara adat Jawa tersebut menjadi penanda seorang perempuan sudah menginjak usia dewaasa. Sejumlah prosesi dilakukan dalam simulasi upacara adat itu seperti siraman.

Kegitan simulaasi upacara adat Tetesan dan Taraban itu diadakan oleh Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta dan Kelurahan Patehan. Kegiatan tersebut merupakan salah satu upaya melestarikan kekayaan budaya yang digagas oleh Paguyuban Kesenian Kelurahan Patehan.

“Upacara Tradisi Tetesan adalah upacara sunatan bagi anak perempuan di Jawa Bedanya adalah kalau laki-laki di sunat kalau perempuan membersihkan kewanitaannya. Upacara ini untuk menandai seorang anak perempuan sudah menginjak dewasa,” kata salah satu Pelaku Budaya Angger Sukisno saat simulasi Tetesan dan Taraban di Kelurahan Patehan, belum lama ini.

Sebelum prosesi dimulai, biasanya diadakan selamatan terlebih dahulu. Dalam selamaten adat itu ada beberapa uba rampe yang harus disiapkan, seperti buah-buahan dan tumpengan. “Ada sesajian sebagai harapan dari keluarga, didalamnya terdapat buah-buahan serta tumpeng,” ujarnya.

Sedangkan Taraban adalah upacara adat yang diadakan saat perempuan menstruasi pertama kali. Beberapa ubo rampe dan prosesi di dalam Taraban seperti kloso atau tikar, daun kluweh serta daun alang-alang, dan dilanjutkan dengan siraman. Menurutnya upacara adat itu merupakan sebuah prosesi adat agar perempuan terpancar auranya dengan berbagai harapan.

Keluraha Patehan sendiri adalah Rintisan Kelurahan Budaya sejak tahun 2018. Beberapa kegiatan adat lainnya sudah diadakan seperti Tujuh Bulanan dan Tedak Siten. Kegiatan itu sebagai bentuk pelestarian adat dan budaya Yogyakarta serta diharapkan menambah ikatan antar masyarakat.

Sementara itu Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi mengatakan kegiatan tradisi tetesan dan taraban ini merupakan kegiatan yang harus dilestarikan. Terutama sebagai bentuk peghormatan kepada pendahulu pendiri kampung dan para tokoh masyarakat sekaligus pelestarian budaya.

“Terlebih lagi Kelurahan Patehan berada di lingkungan Keraton Yogyakarta sehingga kewajiban seluruh masyarakat untuk terus melestarikan tradisi dan kebudayaan yang tidak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari,” tutur Heroe.

Dia menilai pengetahuan budaya, adat istiadat, dan tradisi penting diberikan ke anak-anak lebih dini, karena mereka mempunyai tanggung jawab untuk menjaga diri sendiri. Diakuinya walaupun di sekolah, sekarang juga diberikan pengetahuan tentang reproduksi, pengetahuan tentang budaya seperti ini juga harus tetap dilestarikan dan diimbangi dengan pengetahuan tentang apa yang terjadi di dalam dirinya.

Ditambahkan Pemkot Yogyakarta mendukung kegiatan pelestarian adat dan budaya di wilayah Kelurahan Patehan agar terus dilestarikan dan menginspirasi untuk kelurahan dan kecamatan di wilayah Kota Yogyakarta. Selain itu gelar budaya ini diharapkan mampu menjadi daya tarik wisatawan bagi Kelurahan Patehan, sehingga Predikat Kota Yogyakarta sebagai Kota Pariwisata Berbasis Budaya akan semakin kuat

“Harapannya Gelar Budaya ini dapat meningkatkan kerukunan, kemakmuran, dan kesejahteraan masyarakat Patehan. Semakin menyatu dalam setiap nadi kehidupan dan saling menghormati dalam kebersamaan dan perdamaian,” pungkasnya. (Tri)

Read previous post:
Menengok Geliat Budidaya Ayam Laga

SELAIN impor daging ternak, impor satwa klangenan pun sering dilakukan di negara kita. Sebagian satwa klangenan asal luar negeri seperti

Close