KISAH TRAGIS RADEN PABELAN (3) – Tewas Dengan Badan Penuh Luka Tusukan

Muda-mudi jika sedang di mabuk asmara, apapun bisa metreka lakukan. Ternyata hal itu dialami pula oleh Putri Kedaton, yang dibuat mabuk asmara oleh Raden Pabelan. Kokohnya tembok keputren tak mampu menghalangi cinta mereka.

DI dalam keputren di tengah suasana malam yang indah dengan langit bersih bertabur sejuta bintang, diiringi semilir angin yang dingin-dingin sembribit Putri Kedaton mengajak bermesraan dengan Raden Pabelan yang ganteng. Sepasang remaja dari Kerajaan Pajang inipun hatinya jadi berbunga-bunga, segalanya menjadi terasa indah. Bila asmara sudah membara keinjek jempol kakinyapun tiada terasa lara dan jika cinta sudah melekat tai kucingpun serasa coklat.

“Diajeeeng…?”, bisik Raden Pabelan mendekap mesra.

“Hmmmm?”, jawab Putri Kedaton hanya bergumam sambil menyesapkan wajahnya di dada lelaki pujaannya. Makin malam adegan mereka berdua makin berani. Putri Kedaton mengajak Raden Pabelan masuk ke kamarnya. Selanjutnya yang terdengar hanya desah-desah nafas yang saling berburuan. Dalam Babat Tanah Jawi tidak disebutkan mereka berdua itu lagi ngapain?.

Sampai datangnya pagi, Raden Pabelan kebingungan bagaimana dia harus pulang? Di mana-mana nampak ada prajurit dan para embanpun berseliweran kesana kemari.

“Diajeng, bagaimana aku harus meninggalkan keputren dan pulang ke rumah?”, tanya Raden Pabelan kebingungan.

“Biarlah kamu di sini saja. Tidak bakal ketahuan siapa-siapa, pintunya aku kunci” jawab Putri Kedaton menenangkan.

Demikianlah Raden Pabelan sampai hampir seminggu berada dalam keputren tidak ada yang mengetahuinya. Baru seorang emban sempat memergokinya ketika Putri Kedaton runtung-runtung berduaan kemul sarung akan ke pakiwan lantaran Raden Pabelan kebelet mau be’ol.

Emban tadi lalu melapor kepada Kanjeng Sultan bahwa ada seorang maling sakti masuk ke keputren. Namun dia dalam perlindungan Putri Kedaton. Mendengar laporan ini Kanjeng Sultan Pajang murka.

“Wirakerti dan Sura Tanu. Kalian berdua adalah pimpinan prajurit Wiratamtama ajak anak buahmu menangkap maling di keputren! Meski maling tadi dalam lindungan putriku bunuh saja!”, perintah Kanjeng Sultan tegas.

“Sendika dhawuh, Kanjeng Sultan” jawab Ngabei Wirakerti dan Sura Tanu. Mereka segera memanggil dua puluh prajuritnya untuk mengepung keputren. Sesampai di keputren ternyata Putri Kedaton berpelukan erat dengan Raden Pabelan bertekad untuk mati bersama,

“Jika kalian mau menusuk tubuh Kangmas Pabelan silakan sekalian menusuk tubuhku!”, seru putri Kedaton menantang Ngabei Wirakerti.

“Kanjeng Putri, kami datang tidak akan membunuh siapa-siapa. Hanya ingin memanggil Raden Pabelan untuk kuajak sowan Kanjeng Sultan. Maksudnya agar Raden Pabelan berani secara langsung melamar Kanjeng Putri untuk selanjutnya dinikahkan. Ayo Raden Pabelan bersamaku sowan sang Prabu!”, ajak Ngabei Wirakerti.

Mendengar bujukan itu Putri Kedaton maupun Raden Pabelan percaya dan segera melepaskan pelukannya mengikuti langkah Ngabei Wirakerti. Sesampai di pelataran keputren prajurit-prajurit Wiratamtama segera menyerang Raden Pabelan bertubi-tubi hingga tewas dengan banyak luka tusukan. Jazad Raden Pabelan lalu dibuang ke Sungai Lawiyan. (Akhiyadi)

Read previous post:
Mak-mak Pemulung Jemuran

LAHAN jemuran itu penuh pakaian para santri. Ada ratusan bahkan ribuan kain yang dikeringkan dengan sinar matahari. Malahan saking banyaknya,

Close