KISAH TRAGIS RADEN PABELAN (1) – Ditantang Ayahanda Memikat Putri Kedaton

Banyak cerita yang tersisa dari Kerajaan Pajang, yang berdiri pada akhir abad ke XVI Masehi. Kisa itu termaktub dalam Babad Tanah Jawi yang ditulis oleh WL Olthof tahun 1941. Salah satunya menyinggung Raden Pabelan, putra Tumenggung Mayang yang berwajah tampan, namun mengalami nasib tragis.

TUMENGGUNG Mayang adalah adik ipar dari Panembahan Senopati yang masih menjabat sebagai salah satu Bupati di wilayah Kerajaan Pajang. Beliau berputra tunggal bernama Raden Pabelan yang sangat tampan wajahnya. Kecakepan pemuda itu bahkan nyaris tidak ada bandingnya di seluruh Pajang. Hal ini sering membuat para wanita baik gadis maupun para ibu muda tergila-gila padanya. Sayangnya tabiat dan kelakuan pemuda tampan ini tidak terpuji, urakan, suka menggoda wanita, dan juga tak jarang merusak rumah tangga orang lain gara-gara istrinya terpikat dengannya.

Tumenggung Mayang jengkel dengan kelakuan anaknya tadi. Berkali-kali beliau menyuruhnya segera beristri jangan hanya menggoda istri orang setelah terpikat dicampakkan begitu saja. Tetapi permintaan ayahnya itu selalu saja ditolak oleh Raden Pabelan.

“Pabelan, jika kamu memang jagoan merayu wanita rayulah Putri Kedaton, ia amat cantik. Kecuali itu kalau kamu berhasil memikatnya kamu akan sangat terkenal di Pajang. Bahkan, jika beruntung kamu bisa jadi anak menantu raja. Tetapi jika gagal dan tidak beruntung kamu bisa jadi tumbal kerajaan Pajang. Meski demikian hal itu masih lebih baik dari pada saban hari kamu menggoda anak istri orang sungguh memalukan dan tidak terpuji!”, kata Tumenggung Mayang membombong anaknya.

“Aku tidak bisa, Rama. Bagaimana mungkin aku bisa ngerayunya? Putri Kedaton itu kan berada dalam istana?”, jawab Raden Pabelan.

“Itu gampang caranya. Biasanya anak putri kan menyukai bunga? Aku punya bunga cempaka sakti yang wangi sekali. Jika seorang gadis sudah melihat bunga itu dan mencium harumnya ia akan tergila-gila kepadamu. Siang malam selalu teringat kamu, makan tidak enak, tidur tidak nyenyak, dan di rongga angannya yang ada hanya bayangan wajahmu saja”.

“Tetapi bunga cempaka itu harus diberikan kepada Putri Kedaton kan, Rama?”.

“Lha iya”.

“Terus cara memberikannya bagaimana? Toh tidak sembarang orang boleh masuk Ke Kraton termasuk aku?”, kata Raden Pabelan.

“Caranya begini. Kamu berdiri saja di dekat pintu gerbang Kraton yang menghadap ke Alun-alun itu. Setiap pagi Emban Soka akan keluar dari istana pergi ke pasar membeli bunga untuk berbagai kepentingan sesaji baik di dalam lingkungan Kraton maupun di tempat lain”, kata Tumenggung Mayang yang sengaja menyuruh anaknya berbuat curang lantaran sudah amat jengkelnya dengan perilakunya. Kalah cacak menang cacak, jika nasibnya baik ya bisa untung tetapi jika tidak ya biarlah jadi tumbal kraton mati dikroyok prajurit. (Akhiyadi)

Read previous post:
ilustrasi
Bupati Koruptor

BILA Anda mengikuti kasus Bupati Kudus, M Tamzil, ada fenomena menarik dan patut jadi pelajaran berharga di negeri ini. Seperti

Close